Tags

,

Dengan melejitnya novel dan film Laskar Pelangi dan kemudian Sang Pemimpi, nama Andrea Hirata rasanya makin familiar di telinga banyak orang. Tak heran ratusan bahkan ribuan orang rela berdesak-desakkan di berbagai acara yang menghadirkan Andrea sebagai bintang tamu. Foto bareng hingga memberi tandatangan seperti semacam ritual yang harus dijalani Andrea tiap kali acara yang dihadirinya selesai.

Selain itu, pria berambut ikal ini juga kebanjiran e-mail. “Andrea selalu berusaha menyempatkan untuk membaca e-mail, tapi tidak semua bisa dia jawab. Biasanya dia mengutamakan e-mail dari orang-orang yang membutuhkan support,” ujar perempuan berambut pendek dari tim manajer Andrea di awal 2008 lalu.

Menerima e-mail dari idola memang sangat menyenangkan. Dan itulah yang dirasakan RSH, karyawati bank di kawasan perkantoran di Jakarta. “Ikal balas e-mailku,” ujar RSH suatu kali dengan wajah bahagia.

Dia mengaku telah menulis e-mail yang menggambarkan betapa desperate dirinya. Sebab impian yang dia bangun sejak dulu, selalu berantakan meski dia merasa telah berjalan di jalur yang benar. Bahkan dia berniat terjun dari jembatan penyeberangan orang saking frustasinya.

“E-mail dari Ikal bikin aku semangat lagi,” ucap RSH kemudian.

Laskar Pelangi (pun dengan Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov) memang bukan murni memoar masa kecil Andrea Hirata. Di suatu kesempatan, dia mengaku telah membumbui ceritanya dengan imajinasi. Karena itu dia menolak mengatakan telah menulis memoarnya.

Bagi sebagian orang, Laskar Pelangi bukan hanya sekadar judul film dan novel. Tapi cerita yang dituturkan dengan cerdas oleh pengarangnya sanggup membuat banyak orang termotivasi. Motivasi untuk melangkah maju meski banyak aral yang melintang.

Menularkan semangat kepada ribuan orang untuk terus maju hingga mencapai apa yang dicita-citakan tentu bukan hal gampang. Sama tak gampangnya dengan membuat mimpi menjadi nyata. Tapi bukan berarti manusia terus tidur agar terus bermimpi. Karena yang lebih penting adalah segera bangun dan berjalan untuk mewujudkannya.

Aku dan Andrea

Tuhan berikanlah aku, kekasih yang baik hati….
Yang mencintai aku, apa adanya….

Lantunan lagu The Rock terdengar saat aku menghubungi nomor hape yang diberikan Andrea Hirata padaku pada awal 2008 lalu. Bukan nomor hape pribadinya sih, hanya manajemen dia. Tapi kabarnya, nomor itu dulu pernah jadi nomor pribadi Andrea.

Whatever. Bagiku nomor itu secara langsung atau tidak menghubungkan Andrea dengan aku. Huh sayang, saat kutelpon nggak ada seorang pun yang mengangkatnya setelah beberapa jam sebelumnya bernada sibuk.

Jejeran angka di PDA-ku kupencet sehingga terangkailah nomor pribadi Andrea. Dibawahnya kutulis sebuah kuote yang ada dalam The Alchemist-nya Paulo Coelho.

“When you are loved, you can do anything in creation. When you are love, there’s no need at all to understand what’s happening, because everything happens within you.” Kalimat itu ku-sms ke Andrea pada 14 Februari malam. He he sok valentine-an gitu. Sayang, hingga 15 Februari siang, aku nggak juga dapat balasan sms dari dia, hiks….

Hari itu, kubaca lagi e-mail singkat dari Andrea. E-mail balasan atas e-mailku sebelumnya. E-mail singkat tapi telah menyalurkan energi positifnya buatku.

Aku ingat diriku yang kemarin. Yang selama 2 hari telah menjadi sosok angkuh, seangkuh Patung Pemuda hitam di Senayan. Tapi, e-mail Andrea berhasil dengan sukses memecah belah ‘patung pemuda hitam’ itu.

“Vita, terima kasih atas apresiasinya pada buku-buku sederhanaku,” begitu kalimat awal Andrea dalam e-mailnya setelah menulis waalaikumsalam.

Email yang mungkin isinya sama dengan yang dikirimkannya kepada jutaan penggemarnya. Jutaan orang yang menjadi Anreanis lantaran terhipnotis tetralogi Laskar Pelanginya.

Di akhir email, sebelum dia menuliskan b inspired, b my friend; dia mendoakanku. Semoga _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ ya. Sebuah jalan yang pernah dilaluinya. Sebuah ketidakpastian dengan segala macam ketidakpercayadirian. Namun keyakinan bahwa ‘bila kita bermimpi pasti mimpi kita akan dipeluk Tuhan’ membuat segalanya menjadi nyata.

Berita mengejutkan yang kudapat awal Januari 2008 lalu kuanggap sebagai keberuntungan pemula. “Every search begins with beginners luck and ends with the victor’s being severely tested.”

Bang Ikal, makasih telah mengingatkanku sama mimpi-mimpiku, untuk mengingat setiap mozaik dalam hidupku, sehingga aku mensyukuri apa yang aku dapat (dan yang tidak aku dapat). Kata-kata penuh makna yang cerdas yang kau susun benar-benar ajaib. Aku nggak peduli Bang, meski ada yang beranggapan ada lack of economy yang menyedihkan dalam Edensor-mu.

Kenapa? Karena ada yang menyebut kamu melakukan kesalahan fatal ketika menghadapkan klasikal dengan monetaris. Sebab yang ditampakkan untuk bertempur adalah adalah Adam Smith vs Maynard Keynes. He he, nggak ngertilah Bang, aku bukan ekonom dan juga bukan orang yang tertarik pada ekonomi sebagai subjek.

Apapun itu, kamu pasti punya argumentasi sendiri. Bagi kamu yang terpenting adalah menulis dan menulis. Karena menulis adalah untuk kesenangan batin semata, tak peduli mau dikritik, dihina atau apapun….

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.

–tulisan lama–