Tags

Beberapa hari yang lalu ngobrol dengan ibu kost. Biasanya topik pembicaraan ‘abadi’ kami adalah kisah cintanya di masa lalu, sehingga aku sering membuat headline dalam pikiranku: Yang Tua yang (Pernah) Bercinta setiap kali berbicara dengannya. Tapi beberapa hari lalu isi obrolan kami tentang copet.

Copet akan beraksi bila punya kesempatan. Terkadang kita menciptakan kesempatan itu tanpa sengaja karena kurang berhati-hati. Ini beberapa kisah aksi copet.

1. Pura-pura kejang

Ibu pemilik warung yang juga tetangga kostku suatu kali pergi ke bank untuk mengambil uang. Dompet berisi uang dimasukkannya di kantong celana panjangnya. Di dalam angkot, tiba-tiba pria yang duduk di sampingnya kejang-kejang. Ibu pemilik warung kaget dan berusaha untuk menolong, tapi teman si pria malah mengambil kesempatan itu untuk mengambil dompet si ibu.

2. Menebar uang

Suatu kali ibu kost akan pergi ke stasiun bersama menantunya. Angkot saat itu agak penuh. Tiba-tiba di dalam angkot ada pria yang uangnya tercecer di mana-mana. Uangnya dalam bentuk kertas dengan nominal Rp 1.000. Ketika ibu-ibu sebelah pria itu membantu memunguti uang, pria tersebut malah mengambil dompet si ibu.

3. Pura-pura muntah/ mabuk

Hampir sama dengan yang pura-pura kejang.

4. Mepet-mepet

Ini ceritaku waktu masih di Jakarta. Suatu kali aku naik metromini dari Pasar Minggu. Metromininya kosong. Tiba-tiba ada kakek-kakek yang naik dan memilih duduk di sebelahku. Seperti biasa kalau kena angin aku suka terkantuk-kantuk. Makin lama tuh kakek kok duduknya makin mepet-mepet ya. Nggak lama aku merasa ada yang meraba-raba. Wuah dasar tua bangka tak tahu diri. Ini harassment atau mau nyopet ya. Ternyata tangan kakek itu mencari-cari retsleting tas yang kudekap. Aku langsung berdiri sambil berkata “Permisi” dan melewati kakek itu untuk pindah tempat duduk. Tak lupa kuinjak dulu kaki kakek itu. Grrrhh rasain lo.

4. Copet teriak copet

Seseorang berteriak kecopetan, ketika seorang lainnya mendekatinya untuk memberi bantuan eh malah justru dia sendiri yang kemudian dicopet.

5. Menyebar barang yang dibawa

Mirip dengan menyebar uang di angkot, bedanya yang ini biasanya dilakukan di jalanan. Barang yang disebar bisa barang belanjaan, buku-buku, dan sebagainya. Orang yang menolong malah kemudian dicopet.

6. “Kamu bawa ATM?”

Cerita yang ini lebih tepat disebut penodongan. Peristiwa terjadi waktu aku baru beberapa minggu tinggal di Bandung. Suatu kali, aku ijin kelas matrikulasi Bahasa Inggris karena nggak enak badan. Di angkot ada pria yang menurutku rada-rada serem coz matanya tuh liar banget. Kalau ada penumpang yang ngeluarin dompet atau hape sama dia langsung diperhatiin.

Awalnya aku duduk di depan pria ini, tapi begitu penumpang yang lain pada turun, aku bergeser ke tempat duduk favoritku: di belakang sopir. Di angkot saat itu cuma ada sopir, co-sopir, aku, pria mencurigakan, dan seorang cowok yang lagi asik dengan hapenya. Tiba-tiba pria mencurigakan itu tanya ke cowok hape, “Rumahnya mana?”

“Dago,” jawab tuh cowok.
“Bawa ATM nggak?”
“Enggak. Saya nggak punya ATM,” ujar tuh cowok dengan suara ketakutan.
“Ya udah, sini hapenya aja,” kata pria mencurigakan sambil merebut hape cowok itu.

Haduh apa ini… Aku ketakutan. Saat itu aku nenteng laptop karena nggak muat masuk tas. Sedangkan di tasku ada uang kas kelas yang jumlahnya cukup banyak, juga hape yang saat itu lagi kubawa semua. Aku buru-buru minta stop sama sopir. Eh sopirnya tetep jalan aja. Wah ini pasti konspirasi jahat. Untung waktu itu lagi agak macet, jadi aku bisa loncat turun. Si sopir nggak memberiku kembalian saat aku memberinya uang Rp 5.000 padahal aku belum lama naik.

Saking takutnya aku nggak kepikir ngeliat plat nomor angkot itu. Ya ampun gimana nasib cowok di angkot itu ya… Maaf Mas, aku nggak bisa nolongin kamu😦

7. Berdesak-desakkan

Copet dan komplotannya memang berusaha membuat korban lengah. Salah satunya dengan mengepung korban dan pura-puranya lagi berdesak-desakkan. Ini kualami waktu kecopetan hape di Stasiun Depok. Juga saat seorang mbak kecopetan di Mall Ambassador suatu siang beberapa tahun lalu.

Saat di kendaraan umum memang sebaiknya jangan mengeluarkan barang-barang yang bisa mengundang copet. Hati-hati juga setelah meninggalkan mesin ATM karena bisa saja ada yang sudah mengawasi untuk selanjutnya mengikuti dan melancarkan aksinya untuk mencopet. Mungkin kelihatan nggak keren kalau selalu mendekap tas Anda, tapi sebaiknya kenakan tas dalam posisi yang memudahkan Anda mengawasi dan mengecilkan kemungkinan tangan jahil untuk beraksi.

Pencopet biasanya tidak beraksi sendiri melainkan memiliki komplotan. Mereka tidak selalu orang-orang bertampang seram. Para pencopet selain berusaha menarik perhatian juga berusaha mendapat empati calon korban. Jadi berhati-hatilah bila tiba-tiba perhatian tertuju pada seseorang dan kemudian lahirlah empati, karena bisa saja Anda tengah menjadi target pencopetan. Mmm bukannya suudzon sih, tapi lebih berhati-hati saja.

Kejahatan bisa terjadi di mana saja, bukan hanya di kendaraan umum atau di jalanan. Di supermarket yang dilengkapi CCTV pun pencopetan masih bisa terjadi. Yang ini pernah aku alami di supermarket di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hebatnya, aksi si copet sama sekali tidak tertangkap kamera. Mungkin dia hafal benar spot mana yang tidak terjangkau CCTV. Selain yang telah aku kemukakan di atas, masih banyak lagi modus-modus pencopetan. Karena itu, mari kita selalu waspada dan berhati-hati, jangan sampai lengah.

Yang lebih penting, BERDOA sebelum melakukan perjalanan. Karena sebutir debu tidak akan terbang tanpa kehendak Tuhan. Jadi kalau Tuhan tidak berkehendak tentu segala sesuatu tidak terjadi. Karena itu meminta perlindungan-Nya agar terhindar dari kejahatan adalah jalan terbaik.