“Aku mau ke Aceh,” katamu bertahun lalu. Pemberitahuan yang sudah kukira sebelumnya, tapi tetap menghentakkanku. Buatku, Aceh masih terlalu jauh dari Jakarta. Dengan jarak yang begitu lebar artinya aku tidak bisa sering-sering menemuimu.

“Kita kan bisa teleponan, SMS-an, e-mailan, chatting. Nggak ada yang berubah,” katamu saat itu.

Tentu ada yang berubah. Menemui sosokmu langsung dengan menemuimu lewat perantara teknologi jelas berbeda. Dulu, kita sering kali bersama-sama. Di mana ada kamu pasti di sekitar situ ada aku. Seolah-olah kita berdua seperti sepasang kaki yang menyangga satu badan.

Mimpi, keinginan, dan ambisi yang sejalan. Menjadikan kita berdua tampak seperti partner yang sempurna. Kamu yang begitu mengerti bagaimana menghadapiku saat keras kepalaku muncul dan berkuasa demikian hebat. Ketika orang-orang tak memahami pilihanku, tidak mengerti cara berpikirku, kamulah satu-satunya yang mendukung. Meski pada akhirnya, kau jejalkan sudut pandang lain dengan tetap berbingkai rasionalitas.

Aku nggak pernah mau melihatmu terpuruk. Aku nggak pernah ingin melihatmu sedih. Kamu sama sekali nggak cocok berwajah sedih dan kecewa. Makanya aku benci saat kamu mengatakan kalimat-kalimat bernada pesimis.

Waktu berlalu dan menciutkan jarak itu. Kita memang tidak berada di kota yang sama. Bandung menjadi pelabuhanmu berikutnya. Aah Jakarta dan Bandung kan hanya terpaut sekitar 3 jam perjalanan darat. Biarpun jaraknya lumayan dekat, tapi kita nggak bisa sering-sering ketemu. Rutinitas yang saat itu sangat abadi membuat waktu kita masing-masing begitu padat.

Waktu kembali berjalan dan mengantarkanmu (seharusnya) ke kota yang sama denganku. Tapi aku memilih untuk melangkah meninggalkan zona nyamanku. Aku memilih untuk mewujudkan keinginan yang sudah sejak dulu kutulis dalam proposal hidupku. Meskipun memang, standar keinginan itu aku turunkan. Ya, aku malah meninggalkan Jakarta yang justru jadi persinggahanmu berikutnya.

Ketika aku tengah mempertimbangkan untuk kembali berkutat dengan kemacetan dan polusi Ibukota, kau malah bersiap-siap pergi. Akan ada jarak yang terbentang semakin lebar. Kalau kamu tanya aku sedih atau tidak, aku menjawab keduanya. Aku sedih harus jauh darimu hingga puluhan bulan ke depan. Tapi di sisi yang lain aku begitu senang. Aku begitu bangga melihatmu meraih satu bintang yang sejak lama sudah kau tunjuk dari bumi.

Di sisi lain lagi aku juga iri. Tapi sudahlah, mimpimu kan mimpiku juga. Buatku, prestasimu menjadi prestasiku juga. Dan, bukankah selama ini, ini yang jadi doa kita? Ini yang jadi keyakinan kita? Bahwa Allah akan memeluk mimpi ini.

Bangkok. Kini itulah yang akan jadi pelabuhan barumu. He he, akhirnya kamu ke sana juga. Semoga aku mendapat cukup rejeki dan waktu sehingga bisa mengunjungimu, melihatmu, dan memastikan kamu senang.

Selamat ya, kamu pantas mendapatkan itu. Berusahalah selalu dengan kemampuan terbaikmu. Insya Allah, Allah akan senang melihat hambanya yang rajin mencari ilmu.

Subhanallah ya, Allah merancang semua dengan begitu sempurna. Saat yang satu diberi waktu untuk belajar formal lagi, yang satunya harus bisa berjaga-jaga menjadi ‘dompet’, yang mungkin tidak terlalu tebal tapi cukup.

2 Tahun sebenarnya tidak lama. Tapi dalam waktu itu, kehidupan terus berjalan dengan berbagai tulisan yang memenuhi buku catatan hidup kita. Semoga tulisannya tetap indah, terbaca jelas, dan substansinya juga indah. Dalam waktu 2 tahun ini akan ada apa di hidupku ya? Juga di hidupmu? Di hidup kita? Sudahlah, tidak usah pusing melihat jalannya. Karena yang terpenting, tetaplah berjalan.

Hmm LDR nih jadinya🙂 Tapi semoga itu bukan masalah, bukankah dia orang di luar keluarga yang selalu mendukungmu, memahami semua mimpimu, bahkan hingga mimpi-mimpi terliarmu. Jodoh nggak ke mana, Sist.

Untuk my lovely Adek.