Gang kecil di salah satu sudut Jakarta sudah sepi. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sekelompok bocah laki-laki berusia tak lebih dari 15 tahun berjalan perlahan menuju sebuah warung internet. “Bang, mau nonton video Ariel dong,” ujar bocah-bocah itu dengan wajah antusias kepada penjaga warnet.

“Nggak! Udah tutup warnetnya, udah malam, sana pulang,” tolak pria penjaga warnet itu dengan muka masam. Bocah-bocah itu tampak kecewa dan berjalan gontai meninggalkan warnet.

Cerita itu dikisahkan teman sekelas saya beberapa waktu lalu saat video mirip artis yang membuat heboh Tanah Air muncul. Hmm video porno yang diduga melibatkan artis. Saya langsung tahu kabar heboh itu di hari pertama video beredar karena ada teman di FB yang memasang status tentang adanya video tersebut. Cuek. Itu reaksi saya malam itu. Apa peduli saya sama mereka.

Tapi di kampus, kuping saya selalu dicekoki cerita-cerita tentang video mirip artis itu. Di kost, ketika menyalakan televisi, beritanya juga melulu video tersebut. Berita di media on line pun senada. Porno, mesum, asusila, bukan sekadar kata, tapi menyeruak pula dalam potongan gambar yang mau nggak mau membuat saya penasaran. Benar tidak sih, pemeran dalam video tersebut artis-artis itu.

Pun ketika muncul video lain yang tak kalah menggemparkan. Link video tersebut bertebaran di dunia maya. Artinya, siapapun gampang mengaksesnya. Bukan hanya orang-orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Repetisi tentang kata dan gambar porno (meski sudah disamarkan, dll) di berbagai media menimbulkan rasa ingin tahu yang demikian besar di berbagai kalangan. Apalagi artis yang diduga menjadi pemain dalam video itu menjadi trending topics dalam sebuah jejaring sosial dunia maya, semakin menyebarkan rasa ingin tahu. Semua orang sepertinya jadi penasaran berat.

Lalu di televisi semua ramai-ramai bicara tentang video tersebut. Dari pakar telematika, kriminolog, tokoh masyarakat, hingga kepolisian. Pendapat-pendapat tentang video itu semakin menghebohkan isu tersebut. Semula pernyataan merujuk pada keaslian video, lalu meruncing ke ranah hukum. Perdebatan kental terlihat ketika ada pihak yang keukeuh si pelaku harus dijerat dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, sementara pihak lain tidak setuju dengan pendapat itu karena alasan video tersebut tidak dibuat untuk umum.

Saya pribadi, sangat tidak setuju dengan hubungan badan sebelum menikah. Tapi saya sangat berharap masalah ini dilihat lebih proporsional. Video mesum di Indonesia bukan pertama kali ini saja merebak. Konon ada 500 lebih cuplikan film porno yang menggambarkan hubungan seks orang-orang Indonesia dibuat dengan menggunakan handphone dan video kamera. Lalu apa kabar dengan mereka-mereka yang juga merekam ‘adegan ranjang’-nya itu, yang video-nya tersebar entah dengan kesengajaan atau tanpa sengaja?

Terkait promosi ‘jangan bugil di depan kamera’ saya rasa akan semakin bijak jika diikuti ‘legalkan hubunganmu dalam pernikahan’.

(Tengah malam dengan 21 Guns-nya Green Day dan Funeral Songs-nya The Rasmus)