Aa Gym masih berada di Tanah Suci. Karena itu kajian ma’rifat pada Kamis 8 Juli 2010 di Masjid Daarut Tauhid Bandung diisi oleh Ustadz Dudi. Malam itu, Ustadz Dudi bercerita tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah. Mereka yang menjemput maut dengan begitu tenang. Subhanallah, pengen begitu juga….

Kisah pertama adalah seorang teman sekolah Ustadz. Hingga umurnya 40 tahunan, dia tidak juga menjalankan sholat lima waktu. Melihat itu, Ustadz bertanya, “Kenapa tidak sholat?”
“Nanti sajalah kalau sudah tua,” jawab si teman.
“Sholat lah, takutnya jatah hidup tidak sampai tua,” ujar Ustadz.

Ternyata si teman akhirnya sholat dengan belajar dari anaknya. Seminggu masih sholat, dua minggu masih sholat, hingga sebulan kemudian terdengar kabar si teman meninggal dunia. “Subhanallah, dia meninggal dalam keadaan sujud ketika sedang sholat.”

Kisah yang lain adalah teman Ustadz lainnya. Ketika Ustadz sedang bertamu ke rumah temannya itu, tiba-tiba si teman sakit kepala dan pingsan. Si teman dilarikan ke RS. Ternyata dia menderita kanker otak stadium akhir.
“Diberitahu jangan ya Ustadz si pasien ini. Dari medis, paling lama umurnya 20 hari, paling cepet ya sekitar 3 hari,” kata dokter.
“Beri tahu saja, kan yang bersangkutan jadi bersiap-siap,” saran Ustadz.

Selesai diberi tahu kalau umurnya tidak lama lagi, ternyata si teman malah tampak kegirangan. Dia mengucap hamdallah dan sujud syukur. “Akhirnya Yaa Allah, kerinduan pada-Mu ini akan segera terobati,” ucap si teman.

Suatu hari dia bertanya kepada keluarganya siapa yang bersedia membayarkan utangnya kepada seorang teman yang belum sempat dia bayar sendiri. Sang istri menyanggupi. Lalu dia meminta anaknya untuk menjaga ibunya. Dia lalu membenarkan posisi tidurnya, setelah melafalkan dua kalimat syahadat dia pergi dengan wajah begitu tenang.

Semasa hidup, si teman ini rupanya tidak sedikitpun menyakiti hati orangtuanya. Semakin tua, terkadang pikiran orangtua semakin tidak dimengerti, namun dia selalu berusaha untuk mengerti dan tetap menyayanginya. Si teman ini juga selalu bersikap manis pada istrinya, sehingga istrinya pun berlaku yang sama padanya. Dia juga tidak pernah memerintah anak-anaknya. Bila dia bisa melakukan sendiri, maka dia akan melakukan sendiri tanpa memberi perintah kepada anak-anaknya. Disadari atau tidak, hal itu dicontoh anak-anaknya: melakukan semua dengan kemampuan sendiri. Di rumah si teman ini isinya hanya kemesraan semata. Sedangkan di mata kerabat, teman, dan tetangganya, si teman ini dikenal sangat ramah dan mampu memberi energi positif. Hiks, aku mau kayak gitu juga Yaa Allah….

Lucu Banget

Ustadz Dudi ini lucu banget. Medok banget Bahasa Sundanya. Waktu ceramah juga campur-campur gitu bahasanya. Dia ini berkali-kali membuat orang-orang yang datang ke majelis itu terpingkal-pingkal.

Misalnya nih, waktu dia meminta kami untuk mensyukuri apapun yang Allah berikan. “Kalau dapat istri yang enggak cantik atau suami yang enggak ganteng harus tetap disyukuri. Tahu tidak, yang biasanya pada selingkuh itu kan yang istrinya cantik atau suaminya ganteng. Nah kalau yang pasangannya nggak cantik itu nggak mau selingkuh karena nggak mau menambah beban hidup pasangannya. Masak udah nggak cantik diselingkuhi pula. Malah bisa jadi suami yang istrinya nggak cantik nggak selingkuh karena sibuk menunggu istrinya jadi cantik.”

“Ibu-ibu kalau dikasih uang sama suaminya, berapapun disyukuri ya. Kalau suaminya baru bisa ngasih Rp 1.000 sehari ya nggak apa-apa, 30 hari kan Rp 30.000. Tapi suami juga jangan komplen kalau lalu lihat istrinya kucel, lah Rp 1.000 mana cukup buat ke salon. Jadi ya jangan dikit-dikit bilang, iih si mamah meuni bau pisan. Terus istrinya bilang gini, lah papah, Rp 1.000 mana cukup buat beli minyak wangi. Kecuali uang jajannya Rp 20 juta sehari baru bisa mencrang.”

“Ini kayaknya banyak yang belum berkeluarga ya. Para ikhwan ayolah cari jodoh, nih di sini banyak akhwat, siapa tahu ada yang lucu. Kalau suka, langsung aja bilang, jangan dipendem-pendem. Jangan bilang sendiri, ih si eneng itu mau nggak ya jadi istri saya. Langsung aja tanya sama akhwatnya, kan jadi jelas jawabannya. Kalau nggak berani bilang langsung, SMS aja. Bilang: Saya suka kamu. Mau jadi istri saya? Trus kalau akhwatnya jawab begini: Saya nggak suka kamu, biar nggak malu ikhwan bales begini: Wah tadi salah kirim. Kitu nya… Itu namanya teknik.”

“Nanti kalau udah selesai kajian, ikhwan sama akhwat duduk hadap-hadapan ya, biar dapat jodoh di sini. Kalau ada akhwat yang lucu, jepret saja pakai  karet gelang buat menarik perhatiannya. Ikhwan harus jeli nyari yang berpotensi. Boleh saja cari yang cantik, tapi kecantikan rupa harus diimbangi kecantikan akhlak. Tapi cantik kan relatif ya. Terus lihat keturunannya, tapi misalnya ada akhwat anaknya garong cuma sepertinya dia berpotensi menjadi makmum yang baik ya nggak apa-apa.”

“Akhwat juga jangan pilih-pilih ya, susah atuh kalau semua mau yang tinggi, putih, keriting, orang Garut, jualan dodol.”

Ha ha ngabodor banget Ustadznya.

(Punten, karena nggak ditulis, kuote-kuote-nya nggak sama persis dengan yang dilafalkan. Tapi insya Allah tidak mengurangi substansi yang diberikan kok)