Tags

“Tetot, mau ikut liputan daur ulang sampah nggak?” tanya temanku, pekerja media cetak.
“Iih mau, mau,” sambutku antusias.
“Sip, gw jemput elo.”

Hampir dua jam kami berkendaraan menuju tempat warga belajar mengolah sampah yang terletak di Mandala Mekar, Cimenyan, Bandung. Sebuah rumah semi permanen yang sederhana telah diakrabi warga sekitar selama 6 bulan terakhir untuk belajar mengolah sampah plastik menjadi barang-barang yang berguna.

Ibu-ibu PKK menyambut kedatangan kami dengan ramah. Sejumlah makanan kecil disuguhkan, seperti singkong goreng dan cireng. Tidak lama kami dijamu makan siang, menunya teri jengkol, tahu dan tempe goreng, telor dadar, dan tumis daun pepaya. Wah enak juga. Biasanya aku nggak mau menyentuh daun pepaya yang pahit, eh ini malah doyan. Mungkin karena terpaksa lantaran tidak ada sayur lainnya he he.

Lalu kami menyaksikan pembuatan kerajinan tangan yang dibuat dari bungkus mie instan. Aku ikut-ikutan melipat-lipat plastik. Hmm, memang butuh ketelatenan untuk membuat sebuah tas atau dompet dari potongan-potongan plastik bekas bungkus mie instan tersebut.

“Setidaknya menunda benda-benda itu menjadi sampah,” ujar penggagas pengolahan sampah yang sudah terbuang menjadi bermacam alat yang bisa digunakan kembali, Prapti Wahyu Ningsih (32) yang akrab disapa Ning.

Barang baru yang bisa dihasilkan dari pengelolaan sampah plastik tidak hanya tas dan dompet tetapi juga sandal, bunga hias, dan sebagainya. Ning hanya sebatas menularkan keterampilan menyulap sampah menjadi barang baru. Sedangkan untuk bisnis diserahkan kepada warga sekitar yang berminat mengembangkannya.

Tidak hanya sampah plastik, Ning pun concern dengan kompos sampah rumah tangga. “Jadi sisa makanan atau sayuran bisa dijadikan kompos untuk memupuk tanaman,” jelasnya.

Cukup lama kami bertamu di desa tersebut. Desa tersebut adem euy, maklum dekat Lembang. Harga tanah di sana juga masih murah, 1 tumbak sekitar Rp 1,5 juta. Sayangnya air agak susah. Mungkin 5 tahun lagi, harga tanahnya akan melonjak.

Ketika pamit, aku dan temanku diberi kenang-kenangan tas yang terbuat dari bungkus kopi instan. Hmm lucu juga tasnya. Terimakasih ya Ibu-ibuūüôā