“Masih kuliah ya?” tanya perempuan yang baru kukenal beberapa detik itu.
“Iya,” jawabku.
“Senang ya bisa sekolah tinggi. Saya enggak kuliah. Saya lulusan SD,” ujar perempuan itu dengan nada bangga.

Namanya Prapti Wahyu Ningsih. Perempuan 32 tahun itu biasa disapa Ning. Sosok yang inspiring buat banyak orang, tidak terkecuali aku. Orangnya rame sehingga dalam waktu singkat, kami sudah merasa dekat. Padahal aku bukan tipe orang yang gampang akrab dengan orang baru.

Dia memang bukan sarjana. Bukan seorang master. Bahkan bangku SMA dan SMP saja tidak pernah dia rasakan. Tapi jangan salah, dia justru tumbuh menjadi perempuan yang berwawasan luas. Ketertarikannya pada sosial politik dan hukum tata negara membuat dia banyak membaca buku-buku dari bidang tersebut. Dia sangat fasih ketika berbicara filsafat yang tumbuh di beberapa negara maupun pemikiran Marx.

Kadang aku merasa dunia begitu tidak adil. Tapi  ternyata ada orang yang jauh tidak beruntung di banding aku. Siapa yang mau dilahirkan tanpa tahu orangtua kandungnya. Siapa yang mau hidup dengan bayang-bayang kelaparan. Dan inilah yang dialami Ning.

“Dari delapan bayi, hanya saya yang tidak cepat diadopsi. Bayi hitam yang kebiru-biruan,” kisah Ning.

Hingga akhirnya sepasang suami istri yang telah menikah 22 tahun dan tidak dikaruniai anak, mengadopsinya. “Ibu saya anak orang kaya, menikah dengan tukang kayu, sehingga dia terdepak dari daftar ahli waris keluarga. 22 Tahun tidak punya anak, akhirnya ibu membawa pulang saya dari RS. Tadinya bapak nggak setuju, memangnya tidak ada bayi lain apa kok yang dibawa pulang bayi hitam yang biru-biru.”

Ketika lulus SD, rumah mereka digusur untuk taman kota. Karena kaget, ayah Ning terserang stroke. Sedangkan ibunya jantungan. Ingin rasanya dia melanjutkan sekolah seperti teman-teman lainnya, tapi tidak ada biaya. Akhirnya dia bekerja di pabrik penyedap rasa. Upahnya kala itu, tahun 1991, Rp 500. Agar mendapatkan upah lebih banyak, dia sering kali lembur.

“Niatnya sebagian uang mau disimpan buat sekolah. Tapi nggak bisa, karena buat makan dan buat beli obat bapak. Kadang kalau beras dan tempe kebeli, minyak tanahnya nggak kebeli. Sering seperti itu.”

“Allah itu Maha Baik ya. Dulu saya berdoa 3 hal, karena saya tidak bisa makan saya ingin nantinya saya bisa memberi makan orang lain. Saya nggak bisa punya banyak pakaian, saya ingin nantinya bisa memberi orang lain pakaian. Saya nggak bisa sekolah, nantinya saya ingin punya sekolah gratis dan bahkan menyekolahkan orang lain. Tiga doa saya itu dikabulkan.”

Ning bercerita, ketika dia kecil, banyak orang-orang di sekitarnya yang tidak mengijinkan anak-anaknya bermain dengannya. “Ada yang bilang saya anak haram, jadi nggak boleh main dengan saya.” Hiks, aku mulai menangis. Apalagi saat membayangkan bocah 11 tahun menjadi tulang punggung keluarga.

“Waktu itu pernah nggak punya apa-apa. Saya bawa piring dan sendok untuk dijual. Eh di jalan piringnya pecah, jadi cuma bisa jual sendok.”

Hmm dia harus jual-jual barang di rumahnya untuk makan. Bila sudah sampai pada urusan perut, orang-orang bisa berubah, tergantung pilihannya. Ada yang memilih menjadi perampok untuk mengisi perutnya. Ada yang memilih menjual diri demi sesuap nasi. Dan ada yang memilih untuk tetap menjadi orang baik dan malah terus belajar hingga jadi orang pintar.

Ning di mataku adalah seorang pemimpi yang luar biasa. Mimpinya banyak. Ketika ada orang yang bilang mustahil diwujudkan, dia malah semakin tertantang untuk mewujudkannya. Dan mimpi-mimpi dia perlahan namun pasti diwujudkan Tuhan. Orang yang tetap bermimpi ketika bangun, yang bermimpi sambil terbang untuk mewujudkan mimpinya adalah orang yang ‘mengerikan’. Sebab bagi dia, tidak ada sesuatu yang tidak bisa dia lakukan.

Dia hidup sebatang kara, tapi dia tidak kekurangan kasih sayang. Dia tidak kesepian karena dikelilingi banyak sekali orang yang memperhatikannya. Ketika dia cuek dengan baju, perhiasan, kosmetik, dan sebagainya, justru ada orang-orang yang memikirkan hal-hal itu buatnya. Karena itu tidak heran, selama sesiangan bersamanya, Ning tak henti-henti mengucap syukur dan berkata, “Hidup itu indah ya.”

Perempuan asal Solo itu mengatakan, baju-baju daster pemberian teman-temannya diubah jadi baju batik untuk acara formal. Ya ampun, aku bener-bener nggak kebayang. Aku jadi ingat beberapa tahun lalu harus keluar uang ratusan ribu demi kemeja batik formal karena harus mengikuti acara formal. Jadi ingat, baru kemarin membeli kemeja batik ratusan ribu juga buat seseorang. Sedangkan tadi, baru saja seorang perempuan bercerita menjadikan taplak dan daster sebagai baju batik formal.

Di tengah konsumerisme dan hedonisme yang begitu menggila, Ning tetap hidup dengan kebersahajaannya. Di tengah individualisme yang semakin memuncak, Ning masih memikirkan dan melakukan banyak hal untuk orang lain. Ketika banyak perempuan yang sibuk mempercantik diri dengan mengikuti stereotype bentukan kapitalis, Ning justru sibuk menularkan ilmunya. Hmm banyak hal yang dia pelajari dalam school of life-nya.

Aku kagum sama Ning. Aku seide dengannya untuk tidak terjebak dalam hedonisme dan konsumerisme. Seide juga untuk tidak mengamini stereotype cantik ala kapitalis. Tapi mungkin aku tidak akan bisa seperti dia, karena ada beberapa hal yang berbeda. Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu sesuai kapasitasku dan selalu belajar dalam school of life yang diberikan Tuhan padaku.