(http://img148.imageshack.us/img148/706/mentawai.jpg)

Indonesia memang ditakdirkan terlahir cantik. Keindahan dan sumber daya alam begitu melimpah. Belum lagi kekayaan budaya yang dimiliki semakin membuat Indonesia tampak eksotis. Tapi di balik itu, tersimpan masalah yang menjadi pe-er bersama.

Korupsi begitu menggurita. Kemiskinan bak lingkaran setan. Buta huruf masih menjadi persoalan klasik. Belum lagi masalah-masalah lainnya yang seolah membuat keriput halus di wajah cantik Indonesia. Di balik eksotisme Indonesia tersimpan jutaan fenomena.

Di Karawang ada seorang kakek beristri 4. Dia bukan orang yang memiliki kecukupan finansial, tapi berani memperistri 4 perempuan.

“Sebenarnya tidak semua perempuan di sana mau dijadikan istri muda, tapi mereka tidak bisa menolak. Katanya pamali bila menolak lamaran seorang laki-laki, meskipun dia sudah beristri,” ujar penggagas sekolah hijau Prapti Wahyu Ningsih.

Fenomena lainnya adalah penjaja seks komersial. Bukan rahasia umum bila di Negeri ini ada kegiatan seks komersial, dan bahkan dibisniskan. Masih di daerah yang sama, konon jasa PSK dihargai Rp 7.000 dan malahan bisa utang. Jasa PSK seharga semangkok bakso.

Konon lagi, umumnya PSK abege mematok tarif minimal Rp 150.000 untuk jasa seks yang diberikannya. Beberapa orang berpikir, menjual jasa pemuasan seks adalah cara cepat mendapatkan uang. Ada yang demi perut, tapi ada yang demi pemenuhan barang-barang penunjang gaya hidup.

Fenomena lainnya adalah pengemis. Sering kali pengemis di jalanan menolak untuk diberdayakan melalui pemberian keterampilan. Beberapa dari mereka lebih suka duduk di pinggir jalan karena mendapat pendapatan yang lebih besar daripada setelah menerapkan keterampilan yang dimiliki. Seorang pengemis yang biasa mangkal di salah satu sudut Bandung, berpenghasilan minimal Rp 50.000 sehari. Karena itu jalanan masih terlalu menarik untuk ditinggalkan.

Fenomena lain yang juga saya dengar adalah ‘kehidupan bebas’ anak jalanan. Apakah begitu transparannya ruang privasi hingga membuat mereka pun begitu telanjang, entahlah. Jika ini memang nyata, miris rasanya. Tapi bila mau membuka mata ‘kebebasan itu’ memang tidak hanya melekat pada kalangan tertentu saja. So seks bebas sebegitu menggodanyakah bagi orang lintas kalangan.

Yeah, hidup itu pilihan….