Dulu waktu kuliah di Jogja, aku dapat kuliah Sistem Hukum Indonesia. Sebel banget waktu tahu harus belajar hukum. Menurutku hukum itu ribet. Semakin males waktu baca sejumlah UU yang merupakan produk hukum. Hmm bahasanya kok menurutku aneh ya.

Aku semakin tersiksa ketika kantor melemparku ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus pertama yang kuikuti adalah sidang pembunuhan aktivis HAM Munir dengan terdakwa Pollycarpus. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang harus kulaporkan. Sidang yang berjam-jam itu kurekam dan kudengar ulang ketika sidang berakhir. Dan aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Orang bisa karena biasa. Karena sering duduk di ruang sidang dan mengikuti proses pengadilan, perlahan tapi pasti aku mulai bisa menentukan lead. Dulu di antara teman-teman akulah yang paling setia datang ke PN Jakpus, jadi aku umumnya tahu jadwal sidang dan kasus yang berjalan. Ratu PN Pusat pun dilekatkan pada namaku ha ha ha.

“Inget nggak lo, waktu kita diomelin panitera pengganti. Gara-gara Ari sih, dia mau nyuri berkas,” kata temanku mangkal di PN Jakpus.

Iya aku ingat peristiwa itu. Suatu sore, aku dan dua temanku mendatangi panitera untuk mencatat berkas sidang. Dia baik deh coz ngasih kita minum dan jeruk. Dia lalu pamit mau sholat dan berpesan pada kami untuk tidak membawa berkas itu keluar dari kantornya. Eh si Ari temanku malah mengendap-endap mau membawa keluar berkas itu untuk difoto copy-nya. Sialnya, aksi dia ketahuan dengan sukses.

Lalu ada seorang cowok, pekerja baru media on line. Dia ini rada-rada sengak, mungkin karena menyadari dia lah satu-satunya sosok di antara kami yang punya latar belakang pendidikan formal bidang hukum. Gara-gara itu juga dia sering datang telat ke sidang. Menyebalkannya, dia nih enak banget tinggal nyalin catatan kami, atau tanpa susah payah foto copy berkas yang kami dapatkan dengan penuh perjuangan.

“Nyebelin banget sih orang itu. Mending cakep bisa belagu. Ngomongnya sok tinggi lagi,” keluh teman-temanku yang didominasi sama cewek.
“Iya, tapi jangan dicuekin kelewatan gitu. Gw suka kasihan ama dia. Mungkin style dia emang kayak gitu kali,” kataku.
“Iiih lo nih kenapa sih. Elo tuh terlalu baik sama dia, jadi dia itu ngandalin elo. Jangan-jangan lo naksir lagi.”
“Nggak, gw cuma kasihan sama dia, nggak punya temen. Gw kan nggak suka di-ignore orang, jadi gw nggak akan cuekin orang lain.”
“Lo kasihan sama orang yang salah. Ya udah kalo lo mau baik sama dia, lo baik aja sendiri.”

Kadang kebaikanku itu dimanfaatkan dan disalah artikan sama orang lain. Nah orang ini juga mentang-mentang aku baik sama dia, dia ngerasa deket kali ya sama aku so bisa menjudge aku seenaknya. Aku lupa judge-nya apa, tapi berhasil membuatku sebel sama dia. Sikapku benar-benar berubah jadi jutek bin sadis ke dia, meskipun kalau mau jujur aku tetep nggak tega. Hingga suatu hari waktu aku datang telat ke pengadilan, dia memberiku foto copy-an berkas. Ternyata dia bisa so sweet juga.

Hingga akhirnya angkat kaki dan mahkota ratu PN Pusat harus kutanggalkan, aku masih bersikap baik sama dia. Saat dia nggak bisa memamerkan undangan nikahnya ke teman-teman lain, dia bisa memamerkannya ke aku. Mungkin karena saat itu dia mau nikah, jadi sikapnya juga jadi lebih baik. Sayang, teman-teman terlanjur ilfeel sama dia.

Artis n Tipiring

Kadang PN Pusat disambangi artis yang sedang berperkara. Kalau teman-teman desk hukum sih nggak peduli mau ada artis berperkara. Tapi aku merasa berkewajiban juga mengikuti fenomena di depan mataku.

“Vit, lo tau nggak itu siapa?” tanya temanku sambil nunjuk seorang cowok kinclong.
“Ih ganteng, siapa itu?”
“Itu artis X, lo gak tau ya. Sana deh lo bareng anak-anak infotainment.”
Dan bener aja, nggak lama aku udah gabung sama sejumlah pekerja infotainment mengerubungi artis.

Aku suka feature dan yang sebangsanya. Karena itu saat di lapangan sangat sepi, aku suka iseng ikut sidang tindak pidana ringan (tipiring). Aku sering menemukan kasus bermuatan human interest yang menarik untuk diterjemahkan dalam tulisan. Karena hobiku yang satu ini, teman-teman dengan sukarela memberi tahu kalau ada peristiwa-peristiwa semacam itu.

Cried

Sebel banget kadang-kadang sama mataku yang boros banget ngeluarin air mata. Bahkan di tengah sidang, aku bisa nangis tersedu-sedu. Waktu itu di Pengadilan Tipikor. Seorang terdakwa korupsi lagi membaca pledoi. Hiks, kata-katanya menyentuh banget (terlepas dari dia boong, akting or apalah namanya). Aku sibuk mencatat sambil sesenggukan. Alhasil perbuatanku itu menarik perhatian teman-teman. Nggak sopan, mereka ini bukannya menghiburku malah pada ngetawain.

Juga waktu di RSPAD Gatot Soebroto, saat ada anak kecil yang tertembus peluru nyasar. Aku laporan ke kantor sambil nangis. “Vit, itu ibunya nangis?” tanya penulis di kantor.
“Enggak, Mbak.”
“Jadi yang nangis malah elu nih?”
“Iya.”
“Ibunya aja nggak nangis, malah elu yang nangis. Jangan-jangan elu emaknya yang sebenernya tuh.”

Wah humanis sekali ya he he he….