“Buat gw itu cuma seremonial aja, Ta. Gw nggak ikut ah,” ujar teman sekelas dan seperjuanganku suatu hari.
“Iya, buat gw juga gitu. Ya udah kita berdua nggak usah ikut aja,” timpalku.

Lulus adalah sesuatu yang penting dalam sebuah proses pendidikan di lembaga formal. Tapi tidak demikian dengan wisuda. Karena itu hanya peringatan. Karenanya ketika wisuda akan digelar, aku dan temanku itu nggak terlalu semangat. Benarkah seremoni semacam itu tidak penting?

“Kalau aku mau jujur aku juga males wisuda Ta. Ribet harus cari jas, penginapan buat keluarga, belum rental mobilnya. Buatku mungkin nggak penting, tapi ternyata buat ibu bapakku itu penting. Aku nggak bisa nurutin egoku,” ujar temanku yang lain.

Wah kata-kata dia sangat menohokku. Memang sih saat aku dinyatakan lulus beberapa waktu lalu, keluargaku nggak ada yang bisa melihat ekspresiku. Ekspresi lulus bagi mereka mungkin baru terbaca melalui toga yang nanti akan aku pakai. Buat mereka, meskipun wisuda hanya seremoni, tapi peristiwa itu seolah menjadi rekaman perjuanganku selama dua tahun ini.

“Ta, kamu pakai baju kayak gitu nggak setiap hari, makanya itu istimewa buat kita. Jangan egois dong, semua keluarga ngarepin bisa ngeliat kamu yang beda,” nasihat mbakku.

Karena berbagai omelan dan masukan, akhirnya aku mendaftar juga buat mengikuti seremoni itu di menit-menit akhir. Rupanya teman seperjuanganku juga mendapat perlakuan yang sama sehingga dia pun berubah pikiran. Kami ikut seremoni itu.

Aku ingat peristiwa serupa beberapa tahun lalu. Menjelang wisuda, usai dinyatakan lulus saat kuliah di Jogja, mungkin aku satu dari sedikit orang yang enggak semangat ikut seremoni itu. Mendekati hari-h, aku malah mengantar temanku muter-muter cari kebaya dan kain buat dia. Untukku, sama sekali nggak kupikirkan. Hasilnya, orang-orang di sekitarku lah yang akhirnya menyiapkan segalanya buatku.

Seremoni yang aku suka mungkin hanyalah upacara bendera di sekolah, itu pun kalau aku menjadi petugas upacaranya. Soalnya aku berkesempatan melolong-lolong di pinggir lapangan he he. Kalau soal melolong-lolong, aku nggak peduli bakal jadi perhatian banyak orang. Soalnya aku suka. Tapi kalau seremoni yang lain kok sepertinya memaksa mukaku dicoreng moreng ya. Nggak nyaman rasanya kalau jadi perhatian bukan karena lolongan. Ha ha kok kayak serigala sih jadinya….

Hmm welcome back to the real world!