Tags

Jodoh. Ya mungkin begitulah kita. Desember beberapa tahun lalu, kau menyapaku. Tapi karena komitmen yang telah lebih dulu kutautkan, tidak kupedulikan suaramu. Kamu tahu, ada sesal begitu sangat telah mengabaikanmu. Meski belum tentu sapaanmu itu akan membuatmu menjadi bagian dari hidupku. Tapi itulah kontak pertama yang kita lakukan.

Aku menyesal melewatkanmu. Hingga, kau tahu, dirimu menjadi obsesiku. Kupikir kita sangat cocok. Selalu kubayangkan diriku yang mendapat embel-embel namamu, hmm sepertinya keren sekali. Hingga akhirnya, 8 bulan kemudian, kau kembali mengudarakan namaku. Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku menengok ke arahmu, aku menghampirimu.

Ya, mungkin itulah jodoh. Meski aku sempat mengabaikanmu tapi akhirnya aku jatuh ke pelukanmu. Begitu senangnya aku menjadi bagian dari dirimu. Langkahku selalu penuh semangat. Apapun dengan suka rela kulakukan untukmu. Ya, obsesiku padamu kemudian tumbuh dan berkembang menjadi cinta. Aku menjadi begitu setia padamu.

Awalnya memang tidak gampang. Aku sering kali mengeluh di awal-awal langkahku. Tapi aku yakin pasti akan selalu ada fase seperti itu ketika kita satu sama lain saling berusaha menyesuaikan langkah. Terkadang langkahmu begitu cepat dan lebar, tapi di saat lain akulah yang memiliki langkah demikian lebar. Tapi adaptasi itu ternyata membuahkan sesuatu yang menyenangkan. Kita begitu mencintai satu sama lain.

Tapi kau tahu kan, dalam hubungan itu ada pasang surutnya. Sebagai manusia biasa aku juga sering kali mengalami pasang surut perasaan sama kamu. Aku merasa begitu bosan berjalan bersamamu karena kemonotonan yang aku lakoni. Hingga rasanya bosan itu sampai pada titik terbawahnya.

Aku pun pergi meninggalkanmu meski dengan langkah yang sangat berat. Kau ingat, malam itu kau pun tak kuasa melepaskan genggaman tanganku. Yeah, kita sama-sama maju mundur. Mm bukan kamu ding, tapi aku. Aku jadi nggak yakin akankah benar-benar meninggalkanmu saat itu? Atau aku bisa sesaat lebih lama berada dalam pelukanmu? Tapi akhirnya aku mencoba bersikap tegas. Kuputuskan: aku meninggalkanmu saat itu.

Mereka-mereka menyayangkan kepergianku. Katanya kamu akan kehilangan sosok yang lembut hati, yang begitu setia berjalan di sampingmu. He he, aku jadi malu. Tapi aku tidak mengubah keputusanku.

Kau dulu sempat yakin, aku akan kembali di sampingmu. Tapi ketika aku berkali-kali melenggak-lenggok di hadapanmu, sepertinya kau tak lagi memiliki cinta yang dulu begitu dalam buatku. Kau tahu, aku sedih. Merasa cintaku bertepuk sebelah tangan. Terkadang aku begitu benci pada diriku mengapa tidak bisa melupakanmu, mengapa tidak bisa melepaskan pandangan dari sosokmu.

Teman-temanku mendukungku buat balikan lagi sama kamu. Tapi aku terlalu gengsi untuk memulai percakapan. Aku nggak sanggup untuk sekadar berkata hallo terlebih dahulu padamu. Entahlah nanti akan bagaimana. Mungkin aku belum bisa melupakanmu karena aku belum memiliki sosok baru yang sanggup mengisi kekosongan hatiku. Kalau sudah cinta, aku pasti berusaha bersungguh-sungguh. Meski aku tidak suka, meski aku kesal tapi aku akan tetap memperjuangkan yang kucintai sepenuh hati. Bagimu ini belum cukup ya? Atau sudah kau temukan banyak orang-orang seperti aku?

Ya, aku mungkin tidak seperti dulu. Pesonaku mungkin sudah jauh berkurang. Tapi seandainya kau masih memiliki sedikit rasa cinta yang tersisa dan memintaku untuk kembali, aku akan segera mengangguk. Akan kuterima pinanganmu. Aku rela jika kau memintaku untuk berpanas-panas dan berhujan-hujan seperti di awal-awal hubungan kita dulu. Aku nggak butuh singgasana empuk di bawah payung berenda. Aku tetap aku. Aku akan selalu belajar untuk menempa diriku. Aku akan belajar untuk menjadi bagian dari dirimu lagi.

Bohong memang kalau aku bilang nggak lagi cinta padamu. Tapi aku bisa apa? Aku pun enggan untuk mengemis cintamu. Aku enggan untuk pedekate duluan. Nyatanya kau hafal benar dengan sifatku itu, dan dengan kerendahan hatimu, kau tawarkan satu sudut hatimu untuk kuisi. Kau membiarkanku berpikir. Kau beri aku kesempatan untuk memilih. Kau beri aku waktu untuk menjawab. Dan, aku akan mencarimu dalam istikharahku….