Duar!! Duar!! Ini bukan ledakan bom. Ini bukan jaringan Noordin M Top yang sedang beraksi. Ini adalah ledakan tabung gas LPG (utamanya 3 kg). Bukan di satu tempat, tapi di berbagai tempat. Korban? Tentu saja ada. Selain hilangnya harta benda, cacat fisik, nyawa pun menjadi korban. Si Miskin menjadi tumbal desain kebijakan pemegang dominasi kekuasaan.

Mengerikan, ledakan tersebut demikian masif. Menurut Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) sejak 2008-Juli 2010, telah terjadi terjadi 189 kasus ledakan gas. 61 Kasus terjadi pada 2008, 50 kasus pada 2009 dan 79 kasus pada 2010. Tidak heran memang ketika kemudian sebagian orang menyebut peristiwa tersebut sebagai teror bom LPG. Tidak ada kelompok fanatik di balik peristiwa itu, tapi harus ada yang bertanggung jawab. Saya rasa tanggung jawab tetap berada di tangan si pembuat kebijakan. Sehingga tidak arif rasanya bila sejumlah ledakan itu direspon dengan tudingan kelalaian di pihak pengguna semata.

Tidak heran juga ketika bermunculan kalimat-kalimat bernada sarkasme terkait ledakan tabung gas tersebut. Misalnya saja e-mail dalam sebuah milis seperti berikut:

Di balik semua itu, ternyata program elpiji 3 kg tersebut adalah bagian dari misi paling rahasia pemerintahkita dalam menciptakan dan melakukan uji coba persenjatan rahasia, yang direncanakan akan menjadi bagian dari Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsita) negara. Bahkan direncanakan juga diekspor ke negara-negara peminat.Adapun ledakan di mana-mana selama April sampai dengan Juli 2010 ini sebenarnya adalah pelaksanaan uji-coba diam-diam dari bom ciptaan pemerintah yang disamarkan dalam bentuk tabung elpiji 3 kg tersebut.Hancurnya bangunan, jatuhnya korban luka dan tewas, barangkali dianggap sebagai suatu pengorbanan rakyat kecil demi tercapainya misi rahasia negara ini; uji coba persenjatan (bom) “made in Indonesia”.

Badan Standarisasi Nasional (BSN) mengatakan, penelitian menunjukkan ledakan gas yang kerap terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh tabung yang bermasalah. Hal itu dikarenakan aksesoris dan kompor gas, misalnya selang, rubber seal di dalam katup, katup, regulator dan kompor. BSN kemudian mengajukan data, 20 persen regulator, 50 persen kompor gas, 66 persen katup tabung, dan 100 persen selang yang diuji tidak memenuhi syarat mutu SNI.

Asosiasi Industri Tabung Baja (Asitab) memperkuat argumentasi BSN dengan menyatakan bahwa sekitar 21 persen dari sedikitnya 48 kasus kebakaran akibat kebocoran pada selang karet di tabung gas.

Aksesoris yang tidak memenuhi syarat mutu SNI bisa dikatakan tidak berkualitas. Artinya, masyarakat pengguna gas sebagai hasil konversi minyak tanah itu banyak yang menggunakan aksesoris tabung gas yang bermutu rendah. Tapi itulah yang mereka dapat. Logis bukan, jika mereka tidak bisa mengakses yang kualitasnya bagus jika harganya mahal.

Penyelundupan, pemalsuan melalui penyuntikan ditengarai biang keroknya. Apakah sudah, berhenti sampai situ saja? Berhenti sampai identifikasi? Ini soal hajat hidup orang banyak. Ini soal nyawa. Sudah saatnya pemangku kebijakan bertindak lebih sigap, cepat, dan cekatan. Tolong, masyarakat sudah begitu terteror! Yang dibutuhkan bukan sekadar kampanye LPG itu aman, lha wong nyatanya dar der dor di mana-mana. Masyarakat perlu yang lebih konkret.

Derita tak juga usai ketika kemudian tarif dasar listrik naik. Disusul naiknya sejumlah harga barang kebutuhan pokok hingga daya beli masyarakat menurun. Harga barang menggila seolah sudah menjadi perbincangan klasik menjelang bulan Ramadhan.

Derita itu, entah kapan berakhir….

Note: data diambil dari Perang Melawan Teroris Gas Elpiji, berdikarionline.com