(Gambar http://www.toonpool.com)

“Mbak, aku kepilih jadi Paskibra lagi. Kirain aku udah expired,” ujar adik laki-lakiku via pesan singkat.
“Oya? Horeeee. Congrats, Brot,” kataku.

Dia belakangan ini lagi sibuk sama kegiatan sekolahnya. Hmm rupanya dia lagi enjoy banget sama kehidupan putih abu-abu yang sudah setahun dilakoninya. Entah sejak kapan dia menjadi lebih serius dan lebih dewasa. Yang pasti dia ingin membuat kami bangga.

Ingat beberapa waktu lalu saat dia ikut lomba lari dalam Popda. Dia begitu antusias menjaga makannya biar nggak kegendutan dan nggak kekurusan. Seusai lomba dia meng-SMS-ku dan mengatakan kalau dia nggak menang.

“Gimana ya Mbak, nggak menang. Jadi ngerasa bersalah. Maaf ya, nggak bisa bikin bangga.” Hiks, aku nangis baca kata-kata itu. Biasanya adikku ini cuek. Tumben dia melankolis begitu.

Tanpa terasa dia sudah sebesar ini. Tapi buat aku, dia tetep aja adik kecilku. Yang dari dulu selalu kuusili dan kugangguin. Kayak malam itu waktu dia mengirimkan SMS begini, “Mbak, di pensi aku jadi vokalis loh.”

“Oya? Trus kamu nyanyi apa Brot? Bintang Kecil apa Pelangi?”
“Balonku Ada Lima aja sekalian. Ya enggaklah Mbak, nyanyi lagunya XYZ (he he lupa lagu siapa).”

Bintang Kecil dan Pelangi adalah lagu yang dia hafal sebelum masuk TK. Lucu banget dulu ngeliat dia yang masih imut nanyiin lagu itu sambil bergaya. Waktu itu, dia seneng banget kalau aku naroh rambutku di kepalanya. He he kalau dia berambut panjang kok mirip ama adik perempuanku ya.

Ketika suatu kali dia bercerita tentang seorang perempuan, aku kok jealous ya. Buatku dia masih kecil, jadi belum boleh pacaran. “Sama aku manisan siapa? Sama aku pinter siapa?” tanyaku waktu itu saat dia semakin sering menyebut nama seorang cewek. He he kok aku jadi kayak anak kecil begitu ya. Tapi aku mencoba menghadirkan diriku ketika seumuran dia. Wajarlah kalau umur segitu mulai suka-sukaan, asal nggak melanggar batas.

Kalau aku lagi di rumah, rumah pasti berisik sama suara kami berdua. Ibuku sampai pusing dan ikut berisik jadinya ha ha ha. Aku suka gangguin adikku kalau dia lagi mainan hape atau lagi baca sambil tiduran. Sebagai balasan, kalau aku lagi tidur, dia yang gangguin aku. Mataku dimelek-melekin sama dia atau mulutku didower-dowerin. Nggak cuma waktu aku tidur ding, aku melek juga pasti jadi korban keusilan dia.

Dulu kalau lagi ngambek, dia suka banget ngomong begini, “Sekarang Mbak nggak sayang lagi sama aku. Semua udah nggak sayang sama aku.” Udah dua tahunan ini, aku nggak lagi dengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sebaliknya, malah aku yang mengadopsi kalimat itu kalau dia jarang di rumah gara-gara main sama temen-temennya.

“Kamu udah nggak sayang lagi sama Mbak. Ya udah, Mbak balik aja ke Bandung,” kataku sambil beres-beres barang-barangku.
“Iyalah Mbak, enggak…. Besok aku nggak main,” kata dia akhirnya. He he pura-pura ngambekku selalu berhasil membuat dia luluh.

Adikku ini akan sangat bingung kalau melihat aku diem. Dia pasti akan sibuk nanyain penyebab aku diem kayak orang sakit gigi itu. “Mbak, kamu kok nggak berisik sih? Aneh banget kalau diem kayak gitu.” Dia baru berhenti tanya kalau aku udah teriak dengan muka sangar, “Berisik! Aku lagi nggak mau ditanya-tanya!” Adikku ini emang takut kalau aku marah, ha ha ha. Tapi biasanya adikku ini segera cari ibuku dan mencari tahu penyebab diamku. Kalau melihat ini, diam-diam aku suka senyum diantara manyunku.

Kita bertiga berbeda. Mbak beda sama kakak, dan juga beda sama kamu. Pun kamu, nggak bisa disamain sama mbak dan kakak. Kita punya jalan masing-masing yang kita sukai, yang akhirnya kita pilih. Apapun dan bagimanapun semoga menjauhkan kita sejauh-jauhnya dari kedurhakaan, semoga keinginan dan pilihan kita selalu diridhoi Allah. Amin.