Tags

, ,

(Gambar peringatan HAN di Kemendiknas. Koran SI)

Hallo anak-anak Indonesia! Selamat Hari Anak Nasional ya. Yup, setiap 23 Juli, bangsa Indonesia selalu memperingatinya sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Adanya HAN tentu menunjukkan betapa pentingnya anak-anak Indonesia bagi bangsa ini. Namun ironisnya, masalah anak-anak dari hari ke hari semakin kompleks saja.

Masih ingat Baekuni alias Babe yang beritanya menggemparkan awal tahun ini? Pria 49 tahun yang membunuh dan memutilasi anak-anak jalanan setelah menyodomi mereka terlebih dulu. Sebenarnya anak-anak yang mencari nafkah di jalanan itu memang membutuhkan sosok Babe untuk mengadu dan mendapatkan perlindungan. Sayangnya, Babe justru menjadikan sebagian dari mereka sebagai objek untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Tak kurang dari 14 anak diduga menjadi korban mutilasi Babe.

Peristiwa ini mengingatkan pada Siswanto alias Robot Gedek. Pada rentang waktu 1994-1996, pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah ini beraksi hingga korbannya mencapai 12 anak. Pelaku membunuh korban, menyodomi, kemudian memutilasinya. Di meja hidau, Robot Gedek dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi sempat dilakukan, ia meninggal dunia akibat serangan jantung.

Berita mengejutkan juga terjadi pada Juni lalu ketika bocah 8 tahun bernama Arion Abro Activian Sirait, warga Jalan Nurul Iman Nomor 154 RT 8 RW 1, Jaka Sampurna, Bekasi Barat ditemukan tewas tergantung di pagar rumah warga. Dari hasil pemeriksaan polisi, sebelum tewas bocah tersebut telah disodomi. Pelakunya diduga kuat tetangganya sendiri.

Belum lagi masalah kekerasan anak dalam keluarga, yang terlapor maupun yang tidak. Ketika orangtua mengalami masalah, tidak jarang anak menjadi korban pelampiasan kekesalan. Memang bukan selalu kekerasan fisik, tapi kata-kata kasar yang sering diucapkan orangtua akan melekat benar di benak anak, sehingga mereka pun tidak segan untuk merepetisi kata-kata tersebut di manapun dan kapanpun.

Tidak hanya kekerasan, tapi pornografi mengintip di mana-mana. Begitu banyak media elektronik dan media cetak yang mengandung muatan pornografi. Seperti games, internet, telepon genggam, televisi, VCD, koran, dan lain sebagainya. Pornografi disadari atau tidak sangat berpotensi melahirkan pornoaksi atau kegiatan menyimpang lainnya.

(Poster kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kantor LBH APIK, Jakarta. http://www.tempointeraktif.com)

Pe-er negara belum juga tuntas dalam menyelesaikan masalah anak-anak dan memenuhi hak-hak anak. Meski demikian, peran orangtualah yang paling besar dalam membimbing dan mengawasi anak-anak agar tidak terpapar kekerasan dan pornografi.

Sekali lagi, selamat Hari Anak!