Di sini tidak kutemui orang-orang yang berjalan begitu terburu-buru menyeberangi jembatan penyeberangan. Tidak terdengar derap langkah kaki yang seakan berlomba memecah hiruk pikuk lalu lintas. Ketenangan ini awalnya membuatku tidak betah. Semula aku begitu tidak menyukai dekapan Parahyangan.

Tapi di sini kujumpai keramahan luar biasa yang tidak kurasakan saat masih menjadi bagian Ibukota. Waktu awal-awal di Bandung, aku sangat jarang menyapa atau sekadar melempar senyum pada orang-orang yang kutemui di sekitar kost. Soalnya sudah lama kebiasaan baik ini menguap dalam invidualisme yang begitu kental.

Tapi segera saja ada perubahan drastis saat aku pindah kost. Di kost-ku yang baru, rumah-rumah warga letaknya sedemikian rupa sehingga mau nggak mau akan lebih sering mempertemukan orang yang satu dengan yang lain. Awalnya tetangga sekitar yang sering menyapaku duluan. Eh lama-lama dengan sendirinya dan tanpa kusadari aku jadi sering menebar salam dan senyum ke orang-orang yang aku temui, baik kenal ataupun enggak. Akibatnya fans bertambah ha ha ha….

Senang deh melihat respons orang-orang di sini kalau disapa. Hanya dengan kata, “Punten,” kalau aku lewat, mereka sudah mengembangkan senyum begitu lebar. Jadi inget tetangga-tetangga di sekitar rumah budheku di Jogja.

Dan saat untuk melepaskan dekapan Parahyangan semakin dekat. Kota yang awalnya tidak bisa membuatku betah, kini terasa berat untuk kutinggalkan. Dalam dua tahun telah bergulir ribuan cerita. Bertemu dan mengenal demikian banyak orang dengan karakter beragam. Sebelumnya profesi yang kujalani menuntutku bertemu banyak orang-orang baru, tapi sungguh berbeda dengan dua tahun terakhir ini. Sebab orang-orang baru yang kutemui menjadi dikenal lebih dekat dan lebih intens bertemunya.

Sebelumnya, banyak yang mengenalku sebagai orang yang nggak bisa marah. Tapi di sini justru aku bisa mengeksplor keenggaksukaanku dengan marah atau ngambek he he. Mungkin karena di sini aku bergaul dengan banyak sekali orang yang lebih tua yang hubungannya lebih dekat dan bersifat horizontal, jadi aku nggak perlu jaim he he.

Lalu inget saat ngibulin bapak kost biar dibolehkan keluar malam, padahal itu karena aku dan temanku laper dan nggak bisa tidur. Juga waktu lewat tengah malam masih berkeliaran demi nonton bareng Juventus bareng sama Juventini Indonesia Chapter Bandung.

Akan kuingat dengan baik kuku-kuku yang membiru gara-gara mandi pagi-pagi buta. Brr air di Bandung dingin banget sih plus temperatur saat itu yang emang lagi rendah. Sampai sekarang juga, meskipun mandi siang-siang kadang-kadang aku keluar kamar mandi dengan gigi gemeletuk.

Di sini sering banget ada book fair yang digelar masing-masing toko buku. Kalau sudah begini tentu saja konsumen merasa sangat beruntung. Diskon 20-70 persen akan menjadi magnet tersendiri bagi konsumen untuk menyambangi toko-toko buku itu. Ini yang nantinya paling aku kangeni selain melimpah ruahnya tukang jajanan he he.

Dekapan Parahyangan itu awalnya menyesakkan. Membuat nafasku tercekat. Tidak suka. Tapi setelah mengenalnya, aku jadi sayang juga sama Parahyangan ini. Jadi merasa sebagian darahku mengalir darah Kota Kembang. Nanti, kalau ada waktu aku pasti akan sering-sering main ke sini. Menggandeng Parahyangan lagi meski hanya untuk beberapa jam.

“Nggak usah sedih Mbak, nanti kalau pulang kan bisa ketemu lagi,” ujar petugas TU jurusan di kampus waktu aku pamitan beberapa waktu lalu.
“Pulang?” tanyaku bingung.
“Orang Bandung kan?” si petugas TU balik tanya.
“Bukan.”
“Oh bukan? Kirain teh selama ini orang Bandung. Ternyata bukan ya.”
Heran deh kok dia bisa ngirain aku orang Bandung ya. Menurutku, meski aku ngomong pake Bahasa Indonesia, logat Banyumasku masih terasa. Apa logat Banyumas itu mirip logat Sunda ya. He he nggak penting gini.

Hmm counting down the days… Makasih buat semua cerita indah yang pernah dihadirkan, buat proses pendewasaan melalui sejumlah tempaannya, dan buat orang-orang yang sengaja dihadirkan dalam waktuku di sini. Hatur Nuhun….