Tags

“Aku mau boneka itu,” kata serang gadis cilik pada ibunya.
“Tapi nanti kamu jadi nggak belajar,” tolak sang ibu.
“Nggak Bu, aku janji akan tetap rajin belajar,” janji si bocah.

Awalnya, gadis kecil itu memenuhi janjinya. Meski sibuk bermain boneka impiannya, tapi dia tetap rajin belajar. Semua pekerjaan rumah dikerjakannya. Nilai-nilainya pun masih bagus, bukan yang paling bagus memang tapi memang dalam kategori bagus. Tapi itu tidak lama. Beberapa bulan kemudian, gadis kecil itu terlalu asyik dengan bonekanya. Nilainya pun melorot lantaran dia tak lagi rajin belajar.

Melihat itu, sang ibu pun merasa dihianati oleh janji putrinya. “Kalau kamu main terus, bonekanya ibu ambil,” ujar ibu jengkel.
“Jangan Bu, aku janji deh nggak akan banyak main lagi,” ucap si gadis kecil.
“Janji?”
“Iya.”

Tapi kisah kembali berulang. Awalnya memang gadis kecil rajin belajar, tapi lama-lama si boneka yang justru lebih banyak menyita waktunya. Gadis kecil yang dulu rajin menabung, kini malah membelanjakan uangnya untuk membeli baju-baju boneka. Baginya menjadi kesenangan tersendiri ketika melihat boneka cantiknya memakai pakaian yang indah-indah.

Karena jarang belajar, si gadis kecil kerap kali tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Nilainya bahkan semakin parah. Bahkan di sekolah, dia sudah berani membawa serta bonekanya. Ketika melihat rapornya, si bocah seperti sedang melihat rapor anak lain. Nilai itu sama sekali seperti bukan nilai-nilai akademik yang selama ini diperolehnya.

Gadis kecil itu melangkah gontai keluar rumah sembari menggendong boneka. Lalu ketika melihat bocah lain berwajah sedih yang tengah melihat etalase toko boneka, gadis itu berhenti.

“Hai,” sapa gadis kecil itu.
“Hai,” balas gadis kecil lainnya yang berpita kuning.
“Kamu mau beli boneka?”
“Iya, tapi ibuku nggak punya uang. Bukan buat aku, tapi buat adikku. Dia sedang sakit.”

Gadis kecil melirik bonekanya. Boneka yang menemani hari-harinya. Membuatnya tidak kesepian ketika ditinggal orangtuanya sendiri di rumah. Boneka yang ada di setiap waktunya. Meski bisu, namun bagi gadis kecil, boneka itu sudah menjadi sahabat terbaiknya.

“Ini buat adik kamu,” kata gadis kecil sambil mengulurkan bonekanya.
“Buat adikku? Kamu udah nggak suka sama boneka ini?”
“Suka. Sukaaaa banget. Tapi aku tahu tidak semua yang disukai itu harus selalu dimiliki. Aku senang bermain sama bonekaku. Tapi aku nggak mau nilaiku jatuh gara-gara sering main boneka.”
“Itu nggak akan terjadi, kalau kamu mengatur waktu kamu. Kalau kamu selalu berusaha patuh sama janjimu buat rajin belajar,”
“Ya, tapi aku belum bisa begitu. Atau mungkin boneka itu bener-bener bikin aku nggak bisa begitu.”

Air mata meleleh dari pipi si gadis kecil. Berat rasanya berpisah dengan boneka kesayangannya. “Aku nggak mau kamu sedih gara-gara memberi boneka ini untuk adikku,” ucap gadis berpita kuning.
“Nggak apa-apa. Sekarang mungkin aku sedih, tapi nanti aku pasti baik-baik saja. Sama seperti waktu kucingku mati, aku sedih awalnya tapi lama-lama aku bisa ketawa lagi.”
“Kamu yakin?”
“Kalau nanti boneka itu memang seharusnya jadi punyaku, pasti nggak tahu gimana caranya bakal jadi punyaku lagi. Atau mungkin nanti, waktu aku sudah lebih gede, udah bisa bagi waktu, udah bisa memegang janji, aku bakal beli boneka baru.”