Aku dan dia pernah berada di sana, di waktu yang sama, dengan orang-orang yang sama. Tumbuh bersama, menjadi orang tanggung dengan ‘asuhan’ yang sama. Aku, kamu, dia, mereka, memainkan peran masing-masing dalam naskah Tuhan. Dan aku begitu berterimakasih dengan lakon yang kujalani. Dengan jalan cerita yang dibuat rumit oleh pelakonnya sendiri.

Kala itu ada mimpi yang begitu sederhana. Ada asa yang begitu simpel. Namun nyatanya semua berjalan jauh dari kesan sederhana. Egoisme dan gengsi begitu rupa yang membuat perjalanan menjadi begitu berliku. Saat senyum dilempar namun ditampik dengan begitu semena-mena. Ketika niat baik ditanggapi dingin. Ketika lantas ada yang lelah dengan tarik ulur yang tidak jelas.

Dulu, duniaku dan kamu masih dengan koma. Tidak pernah ada titik jelas. Kalaupun ada titik, pasti ada titik-titik, bukan satu titik. Namun kamu begitu larut dengan duniamu yang sama sekali tak serupa dengan duniaku. Aku pun sibuk merotasi matahariku sendiri. Hingga akhirnya aku sadari, telah sejak lama disematkan titik dalam duniaku dan duniamu.

Titik yang menjadi hijab. Kulihat rekaman senyummu. Senyum yang dulu selalu akrab dalam hari-hari yang rumit karena ulahku. Ya, akhirnya selesai. Tidak ada lagi koma dan titik-titik. Hanya satu tanda baca di situ: titik.

Mungkin jalanmu lebih cepat di depanku. Tapi biarlah. Aku ingin berjalan santai, di antara rimbunan pohon di sekelilingku. Aku ingin berjalan santai, menikmati tiap hembusan nafasku, untuk menikmati setiap langkahku bersama dia. Dia yang kuputuskan memiliki titik yang tanpa sadar kubiarkan kosong. Dia yang kuiizinkan memegang tahta seutuhnya.

Ada skenario bagi tiap insan-Nya. Jalani saja. Dan aku bersyukur berada di ‘galaksi’ penuh cinta. Syukur tanpa henti akhirnya semua menjadi semakin jelas, dan aku pun kian mantab jika satu hari nanti melangkah ke level yang lebih tinggi dengannya. Alhamdulillah.