Tags

“Benci dan cinta adalah rasa yang saling berseberangan, keduanya mempunyai belahan berbeda, bila disaat kita membenci harus terus berusaha mencintai, dan ketika cinta itu sudah tidak ada maka janganlah menjadi benci [resapan rasa tanyasaja] “
Itu quote yang tadi pagi aku terima, tiba-tiba aku terhenyak dan diam sejenak …. Beberapa waktu lalu aku pernah ada di situasi itu. Bahkan beberapa kali pernah terjebak di antara rasa keduanya.Kemarin, rasa benci pernah begitu penuh didalam ruanghatiku, aku benci dengan semua yang ada , aku benci dengan semua keadaan yang menimpaku pada saat itu, dan yang paling parah adalah aku membenci orang yang pernah aku cintai. Rasa benci itu membuat aku sesak tak berdaya dan menggelepar bagai ikan kehilangan air. Rasa benci itu membunuhku perlahan.

Tak sadar aku simpan kebencian itu , di rongga-rongga kecil hati, tapi tak sadar juga ternyata itu telah keluar sampai mengalir ke pori-pori kulitku dan melenyapkan rasa cinta yang mungkin dulu terpelihara .
Duh .. kata-kata diatas seperti menampar aku saat ini. Pada saat membenci itu aku tidak ingin sama sekali mencintai, apa gunanya ? , tidak akan ada lagi cinta untuk rasa benci ini. Aku buat sebuah keputusan dengan rasa benci . Hmmm keputusan yang akhirnya tidak menjadi nyata ketika semua kebencian hilang karena rasa cinta ternyata lebih mewabah didalam nya . Cinta menunggu saat yang tepat untuk bersuara.

Jadi benar adanya ketika membenci tetaplah berusaha mencinta . Ketika amarah benci sudah di dada, tetap tanya ruanghatimu tentang cinta mu yang pernah ada .

Di tempat lain, ketika rasa cinta memang sudah tidak ada , kebencian tidak boleh hadir menggantinya. Ya aku tidak boleh membencinya , kami bisa bersahabat, kami bisa bersaudara, kami bisa bersama untuk memberi kebahagian untuk dua mutiara cinta yang ada.

Hari ini hariku lengkap, kudapatkan cinta dan kulepaskan kebencian .

Copas dari note salah seorang teman di FB.