Tags

Tidak perlu ada es krim dengan choco chips kesukaanku. Biarpun hanya ada segelar air putih, jika ada kamu di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu layar besar di studio bioskop kenamaan. Biarpun hanya televisi 14 inch dengan antena patahnya sudah cukup buatku asalkan kamu ada di sebelahku.

Cukup air putih, kamu dan aku, seperti kala itu. Ribuan kata pun mengalir dengan begitu deras. Kita hanya perlu meneguk air beberapa kali sebelum kembali mengucap kisah, membagi rasa dan melukiskan senyum dan menciptakan tawa. Buatku, romantis bukanlah mawar yang jauh-jauh kamu bawa hingga pintu rumahku. Tapi romantis bagiku adalah saat kamu membuatkan tali jemuran buatku, memasang lampu kamar mandiku atau mengganti lubang kunci pintu rumahku.

Seringkali aku mungkin membuatmu bingung dan kesal. Di satu ketika, aku menjadi begitu sensitif dan mood-ku berubah drastis. Beberapa di antara kami, kaum hawa, memang demikian. Terkadang ketika kami mengatakan tidak apa-apa, itu tidak benar-benar berarti tidak apa-apa.

Ya, kami cenderung menggunakan perasaan ketimbang logika dan itu menjadikan kami terkadang tampak begitu egois. Ketika kami mengatakan ingin mengakhiri semua, sering kali kami menyesali ucapan itu. Tidak, kami tidak ingin benar-benar meninggalkan kalian, kaum Adam.

Oke kembali padaku dan padamu. Ingatkah kamu No Strings Attached yang kita tonton waktu itu? Aston Kutcher berupaya sedemikian rupa untuk mendapatkan cinta Natalie Portman. Ditunjukkanlah perhatian sebagai wujud cintanya. Tapi tidak semudah yang dibayangkan. Terkadang perempuan memang susah dimengerti, itu kan yang kaum Adam katakan. Kadang aku pun susah mengerti diriku sendiri.

Maaf jika kamu pikir aku begitu mementingkan diriku sendiri, semua mimpi dan ambisiku. Kadang aku memang ambisius mengejar hasratku melakukan hal-hal baru, menjajal tantangan dengan tangan dan kakiku. Maaf kadang aku begitu pelupa jika kesibukan rutin begitu erat mendekapku. Maaf jika tak  bisa sejujur dirimu, mengungkapkan semua kasih dalam kata. Maaf jika aku terkesan begitu tidak acuh. Aku pun memikirkanmu dalam tiap waktuku, melihat kisah kita yang terekam dalam gambar. Hanya saja, aku selalu sulit mengatakannya. Bahkan kadang aku kesulitan demi mengatakan betapa rasaku padamu sedemikian besar.

Aku benci bertengkar denganmu. Aku benci menyakitimu. Tapi memang kita berdua tidak akan bisa sama. Kamu beropini A dan aku memiliki opini sendiri. Meskipun kita bersama, bukan berarti kita harus selalu memiliki opini yang seragam, bukan berarti melakukan tindakan yang identik. Karena kita bukan sedang belajar menjadi identik, tapi kita sedang belajar untuk menyesuaikan langkah. Yang penting adalah bagaimana menghormati perbedaan itu. Dan aku akan selalu belajar untuk itu.

Saat bersamamu, tidak perlu taksi atau mobil mewah. Aku suka menunggu Metromini di pinggir jalan hingga kaki kesemutan denganmu. Lalu saat hujan, kau bentangkan payung untuk kita berdua. Lantas saat kehausan, kau bergegas menuju penjaja minuman dan kembali padaku dengan sebotol air mineral dingin. Ingatkah kau kisah-kisah seru itu?

Bagiku cukup aku dan kamu dengan semua kesederhanaan dan kebersahajaan kita. Cukup aku dan kamu yang antusias membicarakan mimpi kita. Aku dan kamu yang tengah membangun pondasi terkuat. Aku tahu benar, perselisihan kecil, perbedaan pendapat maupun pertengkaran adalah bagian dari proses membangun pondasi cakar ayam yang kuat. Tanpa itu aku tidak akan mengenalmu dengan baik.

Kamu, ya cukup kamu bagiku. Aku suka semua tentangmu. Wangimu hingga ujung kukumu yang terkadang menghitam. Senyummu hingga keringatmu. Termasuk jerawat yang kadang nekat nangkring di keningmu. Aku ingin terus membacamu dengan seksama hingga tak ada satu tanda bacapun yang terlewat.

Tidak perlu bantal dan guling bulu angsa. Tidak perlu sprei dari sutra. Asalkan aku memimpikanmu, itu sudah cukup. Tidak perlu alunan musik kelas dunia, suara menyanyimu yang sumbang pun sudah cukup untukku. Aku bersyukur dengan kecukupan yang sederhana: aku dan kamu.

Inspired by: kisah mereka.