Tags

,

Nurvita Indarini – detikNews


Jakarta – “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Agaknya kutipan dari penulis kenamaan Pramoedya Ananta Toer mengena benar di sosok Ali Muakhir. Dia terus saja menulis dan ingin terus menulis sampai tak bisa lagi menulis.

Ali tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi penulis ratusan buku hingga mendapat anugerah dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai penulis paling produktif dengan 300 judul buku pada 2009. Kesukaannya mempublikasikan coretannya bermula saat dia masih duduk di bangku SMP.

“Waktu itu saya masih SMP, tahun 1989. Iseng-iseng saya mengirimkan puisi ke salah satu majalah di Semarang. Puisinya waktu itu cuma satu bait. Ternyata dimuat dan mendapat honor beberapa ribu rupiah,” kisah Ali kepada detikcom akhir Februari 2011 lalu.

Ali remaja girang bukan main. Hanya dari merangkai huruf, dirinya bisa menghasilkan uang. Dia pun semakin rajin mengirim karya-karyanya. Kala itu bukan saja puisi, tetapi juga cerita pendek. Dia senang karyanya mendapat apresiasi.

“Dari cerpen saya dapat Rp 3.000. Itu bisa buat uang saku saya selama dua bulan,” ucap alumnus Fakultas Agama Islam Universitas Islam Nusantara, Bandung, ini sambil tertawa.

Ali mengaku tidak pernah mendapat pendidikan menulis secara khusus. Hanya saja dia sempat mengikuti workshop menulis. Tidak seperti sekarang, workshop menulis di zaman dia tidak sebanyak sekarang. Setelah mendapat ilmu dari workshop, dia pun segera mempraktikkan. Kemampuan menulisnya diasah dengan menulis berbagai artikel maupun cerita.

Masa yang paling indah bagi Ali adalah masa anak-anak. Karena itu sebagian besar karyanya didedikasikan untuk anak-anak. Setiap kali menggarap tulisan untuk anak-anak, dia memiliki perasaan yang berbeda yang tidak terlukiskan.

Buku karya Ali diterbitkan pertama kali pada 1999. Karyanya berupa komik dengan judul ‘Abdullah Anak Beta’. Cerita komik adalah asli karya Ali, sedangkan gambarnya orang lain yang mengerjakan. Kini, sudah ada 346 judul buku karya ayah dari 3 anak ini. Dari jumlah itu, dua persennya merupakan karya yang ditargetkan untuk remaja.

“Kendala saya kalau mau menulis adalah bahan yang kurang. Itu akan membawa efek susuah menulis. Jadi kalau orang menyalahkan mood saat enggan menulis, saya rasa itu salah. Karena pasti ada penyebab kenapa begitu, apakah karena kurang bahan, kurang menguasai atau lelah,” tutur Ali.

Bagi Ali dan kebanyakan penulis lainnya, tulisan yang ditulis sekarang belum tentu berasal dari ide yang muncul sekarang. Biasanya ketika ide muncul, Ali tidak langsung menyelesaikan tulisannya karena harus melengkapi bahannya terlebih dahulu.

“Kalau untuk menulisnya saja, bisa saja satu buku dengan 24 halaman diselesaikan dalam satu jam. Itu tanpa proses mencari bahannya. Bisa jadi apa yang ditulis hari ini merupakan proses sejak 4 bulan lalu,” jelas pria yang senang aerobik, lari dan berenang ini.

Menurutnya, untuk menjadi seorang penulis tidak harus berbakat. Ali sepakat dengan ilmuwan Thomas Alfa Edison, 1 persen bakat dan 99 persen kerja keras. Tanpa kerja keras dan hanya mengandalkan bakat, tidak akan menghasilkan buah yang manis.

Ali menyarankan bagi kalangan yang berniat untuk menjadi penulis, jangan ragu untuk mengikuti komunitas penulis. Karena efek dari komunitas itu luar biasa. Ketika ada anggota komunitas yang menelorkan karya, maka bisa menjadi pemicu anggota yang lain untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, dalam komunitas akan mendapat banyak info pihak-pihak yang saat ini membutuhkan naskah. Selain itu jika ada lomba penulisan akan saling berbagi pengalaman dan masukan.

Selain menjadi penulis cerita anak, Ali juga menjadi pengelola Rumah Produksi LineProduction. Dia pun aktif mengisi pelatihan tulis-menulis. Tidak hanya orang dewasa saja yang mendapat pelatihan dari Ali, bocah-bocah SD pun mendapatkannya. Untuk sementara baru beberapa SD di Bandung yang mendapat ‘sentuhan’ Ali.

Bagi Ali, anak-anak sungguh luar biasa dan cerdas. Setelah diberikan arahan menulis dan diberi ide, mereka bisa mengembangkannya dalam karya tulis yang menarik. Bahasa mereka logis dan struktur kalimatnya baik.

“Setidaknya pelatihan penulisan tidak hanya membuat anak-anak lebih baik dalam menulis fiksi, tulisan, tapi juga ketika mereka menulis SMS. Setidaknya mereka tidak menggunakan kata yang bahasa sekarang alay-lah. Kalaupun disingkat ya singkatannya yang wajar,” jelas Ali.

Selepas lulus kuliah, sebenarnya Ali pernah menjadi guru agama. Kala itu entah mengapa, anak didiknya enggan memanggilnya ‘Pak Guru’. Mereka malah lebih suka memanggil Ali dengan ‘Om’. Tidak lama mengajar, Ali lebih memilih menjadi guru bagi anak-anak dengan cara lain, bukan dengan cara berdiri di depan kelas, tetapi melalui buku-buku karyanya.

Selama menjadi penulis, berbagai prestasi pernah diraih Ali. Misalnya saja dia mendapat juara II Sayembara Menulis Cerita Futuristik Anak Majalah Bobo tahun 1999. Judul karyanya kali itu adalah Formula Ajaib. Di tahun 2000, dia meraih juara II Sayembara Menulis Cerita Misteri Majalah Bobo dengan cerpen berjudul Rahasia Sekeping Logam.

Penggemar sup kaki ini juga pernah mendapat juara I Sayembara Menulis Cerita Anak Majalah Ayahbunda dengan cerpen Towet Mencari Tuhan pada 2004. Ali pernah pula menyabet juara I Lomba Cipta Cerpen Remaja Majalah Anita tahun 2006. Cerpen yang dia tulis pada saat itu berjudul, Sekeping Logam Cinta. Lalu pada 2007, Ali mendapat Anugerah Adikarya Ikapi sebagai penulis buku anak-anak terbaik ke-2 dengan judul buku Si Towet.

Pria kelahiran Tegal 21 Januari ini selalu berusaha menulis dari hati. Sebab dengan menulis dari hati, maka pesan penulis akan sampai kepada pembaca. Apalagi menulis untuk anak-anak, nilai-nilai hidup sebagai pesan harus bisa tersampaikan dengan baik.

“Saya nggak tahu sampai kapan saya mau menulis. Selama masih bisa menulis, saya akan terus menulis. Mungkin sampai tangan saya tidak bisa menulis dan mengetik lagi,” cetus pria yang sering dipanggil Matahari Kecil oleh rekan-rekan sesama penulis sembari tertawa.

Mungkin Ali ingin terus menulis bukan saja karena dirinya gemar merangkai abjad, tapi karena dia tidak ingin hilang dari sejarah. Mengutip kalimat Pramoedya dalam buku ‘Khotbah dari Jalanan’ di mana tertulis “Sepintar apapun kau, jika kau tak menulis kau akan hilang dari sejarah”.