Setahu saya, saya ini perempuan sejak lahir. Saya pun diberi penanda berupa nama yang khas perempuan. Tapi entah kenapa, beberapa kali saya dipanggil “Mas” dan “Sir”. Bahkan dokumen penting yang saya miliki jelas-jelas menuliskan jenis kelamin saya adalah: male/ laki-laki. Maaf, saya perempuan sejak dulu, kini dan selamanya.

Ini beberapa peristiwa yang menghilangkan ‘keperempuanan’ saya. Peristiwa ini terjada saat saya masih SMP kelas 1. Kala itu saya sering pergi ke sekolah yang jaraknya sekitar 7 km dengan bersepeda. Biasanya saya melengkapi diri dengan jaket dan topi.

Sedang asyik mengayuh sepeda, ada sepeda lain yang menjajari langkah saya, “Mas, kalau mau ke Tritih lewat sini kan ya,” sapa pengayuh sepeda lainnya itu.

Saya menengok ke arah suara. “Mas?” aku berbalik tanya.

“Eh mbak, ya, maaf dari belakang tadi kayak mas-mas,” ucap orang itu.

Arrrggh. Woi nggak lihat ya saya pakai rok. Iya sih memang kaki saya segede pemain sepakbola, tapi saya kan masih pakai rok.

Di saat yang lain, saya mengangkat telepon saat telepon rumah berdering. “Hallo,” sapaku.

“Mas, bapaknya ada?” tanya suara di seberang.

“Mmm ada. Sebentar ya.”

“Makasih ya mas.”

Ehem ehem… Ini suaraku terdengar seperti suara laki-laki memangnya? Dulu bapak saya pernah bercerita, ketika saya masih bayi, suara tangis saya memang terdengar seperti tangis bayi laki-laki. Suaranya besar dan keras. Tapi seiring saya beranjak besar, suara saya jelas-jelas masuk dalam salah satu kategori: zopran, mezozopran, alto.

Akhir Januari lalu ketika saya bekesempatan pergi ke negeri yang tengah berselimut salju dan banyak penduduknya yang tidak bisa berbahasa inggris, lagi-lagi ‘keperempuanan’ saya hilang. Beberapa bellboy di hotel tempat saya menginap memanggil saya dengan sebutan “Sir”. Oh my God, dia ini bisa membedakan laki-laki sama perempuan nggak sih ya.

“Please, I’m not a man,” gerutuku. Tapi tetap saja mereka memanggil “Sir”.

Lalu kemarin saat sedang dalam acara diskusi, saya menyampaikan pendapat dan pertanyaan di forum. Dan si narasumber tanpa berdosa memanggil saya “Mas” meski pun tidak sengaja. Karena sebelumnya dia memanggil saya “Mbak”. Mungkin karena di ruangan itu saya satu-satunya perempuan, jadi pikiran si narasumber terdisorientasi.

Yang paling mengesalkan adalah paspor saya yang menuliskan jenis kelamin saya adalah laki-laki. Hebatnya saya tidak menyadarinya meskipun dokumen itu sudah saya kantongi hampir 4 tahun dan beberapa kali telah digunakan. Tapi alhamdulillah, sekarang saya ‘sudah’ perempuan.

Untungnya itu sebagian kecil saja. Karena sebagian besar manusia yang saya temui mengakui kalau saya memang perempuan. Dan kenyataannya, saya memang perempuan.