Tags

(Foto: musik.um.ac.id )

Nurvita Indarini – detikNews

// //

Jakarta – Gitar hanyalah kayu berdawai bila tidak dimainkan. Di tangan Jubing Kristianto, gitar bukan hanya menghasilkan bunyi khas alat musik petik tapi juga sanggup memperdengarkan nuansa yang demikian cantik.Jubing dan gitar seolah tak bisa dipisahkan. Alat musik yang dikenalnya sejak masih duduk di bangku SD itu begitu melekat di hidupnya. Melalui gitar, Jubing bebas mengekspresikan rasanya. Melalui gitar juga Jubing menyampaikan doa dan harapannya kepada Sang Pemilik Hidup.

“Waktu bikin lagu ada cetusan harapan saya. Dalam aransemen musik, seperti ada permintaan, permohonan, doa kepada Tuhan yang tercetus dalam rangkaian nada. Lagu itu ekspresi emosi,” kata Jubing dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (10/3/2011).

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 9 April 1966 ini jatuh cinta pada gitar karena orangtuanya hobi memetik gitar. Ketika duduk di bangku SMP, Jubing pun mengikuti les gitar. Les itu diikutinya hingga SMA. Selama sekitar 6 tahun, Jubing memperdalam kemampuannya memetik gitar akustik dengan fingerstyle.

Gitar tidak hanya menghidupi Jubing. Namun karena gitar pula dia mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) pada 2008 sebagai gitaris Indonesia pertama yang menyebarluaskan komposisi dan aransemen gitar pribadi secara gratis di internet. Bahkan sebelumnya, yakni pada 2005 penghargaan Muri telah lebih dulu didapatnya atas upayanya menulis ensiklopedia gitar pertama di Indonesia.

Hinga kini, Jubing telah menelorkan 4 album gitar solonya. Album pertamanya adalah Becak Fantasy. Menyusul kemudian Hujan Fantasy, Delman Fantasy dan yang terbaru Kaki Langit.

Anda kenal kriminolog Adrianus Meliala? Rupanya mereka dulu pernah kuliah bareng di jurusan Kriminolog, Universitas Indonesia. Belajar kriminolog sebenarnya bukanlah impian Jubing. Keinginannya dulu sangat sederhana, ingin kuliah di perguruan tinggi negeri yang kala itu biayanya tidak semahal universitas swasta.

“Saya cari jurusan yang saat itu sepertinya tidak banyak peminat. Akhirnya saya keterima di kriminolog UI. Inginnya sekolah musik, tapi uang pas-pasan,” kisah pria yang juga suka berjalan-jalan ini.

Kendati kuliah di jurusan yang tidak nyambung dengan musik, aktivitas main gitar Jubing tidak berhenti. Saat masih kuliah dia mencoba melamar menjadi guru gitar di salah satu sekolah musik. Sayang, saat itu tidak ada yang berminat untuk les gitar.

Setelah lulus kuliah, Jubing menulis artikel yang berhubungan dengan latar belakang pendidikannya ke sejumlah surat kabar. Dari situ, Jubing mendapat pemasukan. Karena sering menulis artikel, Jubing ditawari bergabung dengan salah satu tabloid di Tanah Air. Dia pun terjun di dunia jurnalistik. Selama 13 tahun, Jubing menekuni profesi wartawan.

Kala menjadi wartawan, Jubing pun menyempatkan diri belajar gitar lagi. Hingga akhirnya, dia sadar kecintaannya pada gitar tidak bisa mati dan bahkan semakin membara. Profesi wartawan yang menyita sebagian besar waktunya tidak bisa membuatnya bebas bergitar. Akhirnya dia mengambil keputusan besar: mundur dari wartawan.

Ya, hidup adalah tentang pilihan. Dan Jubing memilih untuk tidak meninggalkan gitar dan memutuskan mencari makan melalui gitar. Dengan mantap, Jubing pun melangkah meninggalkan meja redaksi yang lebih dari satu dekade akrab dengannya.

Melakukan pekerjaan yang menjadi hobi adalah hal yang menyenangkan. Karena itulah Jubing merasa begitu bahagia bisa menjadikan hobi sebagai pekerjaannya. Dia pun yakin, segala hal yang dilakukan dengan sepenuh hati pasti akan terasa menyenangkan dan memuaskan.

“Saya senang kalau pemainan gitar saya bisa membuat orang senang dan terhibur. Ada yang bercerita lagu saya bisa menenangkan anaknya yang rewel, menginspirasi seseorang untuk menulis, membuat rileks saat menyetir atau didengarkan orang-orang yang sedang jatuh cinta,” tutur Jubing.

Dari kemampuannya menciptakan aransemen musik, Jubing pun menciptakan karya khusus untuk istrinya. Aransemen untuk sang istri diberi judul Song for Renny. Itulah kali pertama Jubing mencipta lagu untuk seseorang. Lagu yang mewakili cinta pada perempuannya.

Jubing sebenarnya pria pemalu. Tapi ketika sudah di atas panggung, dia tidak canggung dengan tatapan ratusan pasang mata yang menatapnya. Karena bagi Jubing, penonton adalah bagian dari permainan gitarnya.

“Semakin banyak jam terbang akan semakin terbiasa dengan atmosfer panggung. Jadikan penonton itu bagian dari diri kita agar lebih bisa menikmati permainan. Kalau kita pikir penonton itu adalah orang di luar diri kira, maka kita akan terus merasa takut salah,” sambung penulis Gitarpedia: Buku  Pintar Gitaris dan Membongkar Rahasia Chord Gitar ini.

Jubing mengaku inspirasi lagu bisa datang kapan saja, tidak peduli kapan pun dan di mana pun. Inspirasi akan muncul saat gitar berada di tangannya. Karena dengan semakin sering memegang gitar makan kemampuannya akan semakin terasah. Karena itu pula akan muncul karya-karya lainnya.

“Sama halnya dengan penulis, dia harus sering-sering memegang pulpen atau komputer untuk menulis, untuk mengasah kemampuannya. Pada dasarnya semua sama, disiplin untuk mengasah kemampuan,” ucapnya.

Mengasah kemampuan, imbuhnya, adalah cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi kesempatan yang ada. Saat memiliki persiapan yang baik dan kesempatan datang, maka kesempatan itu bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Sama seperti mengasah pisau. Kalau pisaunya tajam, ada kesempatan ayam datang bisa kita potong. Tapi kalau pisaunya tumpul, ayamnya malah lari,” tambah pria yang menggemari petikan gitar Earl Klugh ini.

Untuk menjadi gitaris yang baik, sambung Jubing, tidak cukup hanya berlatih. Sebab perlu juga mendengar aneka macam musik. Jubing sendiri menggemari karya Bach dan Chopin. Semakin banyak mendengar musik lain akan memperkaya seorang musisi.

“Ternyata apa yang kita miliki, tidak selalu harta, bisa bermanfat untuk sesama kita,” kata Jubing menutup pembicaraan.

Selain menghibur dengan permainan gitarnya di sejumlah tempat, kini Jubing juga sibuk mengajar bermain gitar. Dia mentransfer kemampuannya memetik gitar melalui sekolah musik “Relasi” Jakarta. Meski tidak lagi menjadi wartawan, Jubing masih menulis dengan mengasuh rubrik tentang gitar di majalah.

Di masa remajanya, Jubing pernah mengikuti Yamaha Festival Gitar Indonesia (YFGI). Gelar juara I  diraihnya pada 1987, 1992, 1994 dan 1995. Bahkan pada 1984 ia pernah meraih Distinguished Award pada Festival Gitar Yamaha se-Asia Tenggara di Hongkong.

(vit/nrl)