Bagiku ulang tahun bukan merupakan hari spesial. To be honest, ulang tahun itu justru semakin mengingatkan kalau aku semakin tua dan jatah hidupku terus berkurang. Tapi justru di hari itu aku mendapat special gift darinya. Hmm, jadi enakšŸ™‚

Usai berbelanja dari pasar, aku meninggalkannya sendiri di dapur. “Sekarang kamu yang jadi asistenku. Nih kamu kupas wortelnya,” ujar dia sambil mengulurkan sebatang wortel.

Aku menggelengkan kepala. “Kamu masak sendiri ya, aku mau bobok siang,” kataku sambil tersenyum jahil dan masuk ke kamar.

Dan jadilah dia berjibaku sendiri di dapur. Sesekali aku meneriakkan instruksi dari kamar. Meskipun aku nggak jago masak, tapi jam terbangku di dapur lebih banyak darinya sehingga kupikir instruksiku akan menjadi petunjuk berharga buatnya he he.

Sekitar dua jam aku terlelap. Saat bangun kudapati dua piring nasi goreng di atas kulkas. Sedangkan di tempat cuci piring, tak ada satu pun piring kotor yang bersemayam di sana. Dapur pun sudah kinclong. Loh, kokinya ke mana? Rupanya si koki kelelahan dalam perjuangan menaklukan bawang merah dkk sehingga tepar di depan televisi di ruang tamu.

Sesaat kemudian, si koki bangun. Kami pun menikmati nasi goreng perdana bikinannya. Hmm enak juga.

“Aku tadi sampai keringetan. Tadi semua bumbu kumasukkin aja. Masak susah juga ya,” celoteh si koki menceritakan pengalaman ‘kitchen alone’-nya.

Aku mendengarkan kisahnya sambil membayangkan bagaimana repotnya dia meracik bumbu dan menyulap bahan mentah hingga menjadi dua piring nasi goreng. Maklum dia kan jarang banget ‘berdiam’ di dapur.

Jadi ingat, dulu dia pernah masak mie instan aja hasilnya nyaris menyerupai bubur mie saking lembeknya. Pengalaman dia di dapur paling saat menggoreng telor ceplok atau saat mengasisteni diriku yang sedang menumis atau bikin cap cay.

Hmm dia jadi orang selain abang nasi goreng dan bapakku yang memasakkan nasi goreng buatku. Karenanya, aku merasa nasi goreng 22 April lalu sangat spesial. Un speciale regalo al mio complenno. Molte grazie, CarošŸ™‚