Tags

“Ta, mana oleh-oleh waktu Ta pergi waktu itu?” tanya temanku.
“Wah cokelatnya udah meleleh, soalnya lupa dimasukkin kulkas. Ganti yang lain aja deh,” timpalku.
“Udah meleleh juga gak apa-apa sih. Oleh-oleh itu kan wujud sayangnya Titta,” ujarnya.

Mau mahal, mau murah, mau enak, mau enggak, mau apapun deh, oleh-oleh yang merupakan pemberian orang lain memang sengaja dibeli untuk orang-orang terkasih. Nggak berlebihan, temanku bilang kalau itu merupakan salah satu wujud sayang. Kalau nggak sayang kan nggak akan dikasih.

Kata-kata seperti itu juga selalu diucapkan nenekku. “Itu kacang dari Mbak X kok nggak dimakan? Udah dibawain jauh-jauh. Kalau nggak suka sama kita kan dia nggak akan kasih.”

Iya memang, pemberian kalau dipakai, digunakan, atau dimakan memang memberikan kepuasan tersendiri bagi si pemberi. Teman-temanku ada yang sering mempraktikkan ini. Aku pernah memberinya tas, kala kami ketemuan, dia memakai tas itu sambil berkali-kali bilang, “Aku suka banget pakai ini.”

Mungkin sederhana, mungkin harganya nggak seberapa. Tapi ketika yang diberi itu antusias, rasanya senang. Merasa dihargai.

Jadi ingat yang sudah lalu di sebuah acara. Kala itu, sesuai pesanan temanku yang minta oleh-oleh kaos dari Jogja, aku bawa ke kesempatan itu. Dia menerima pemberianku dengan mata menyala-nyala (ha ha kok serem ya). Dan sepanjang acara yang berlangsung sekitar dua hari itu, dia memakai kaos itu terus tanpa mengenal waktu dan tanpa mendengar omongan orang.

“Lo udah mandi belom?” tanya seorang teman ke temanku itu.
“Udah dong.”
“Kok kaosnya nggak ganti?”
“Ya nggak apa-apa. Suka-suka gue, orang kaosnya juga nggak kotor kok.”
“Karena yang beliin Vita ya?”
Dia nggak jawab, wajahnya memerah.

Menurutku gambar kaosnya aneh. Kenakak-kanakan, kalau nggak mau dibilang norak, he he he. Tapi temanku itu justru menyukainya. Syukurlah, dia suka. Sudah jauh-jauh kubeli, berat-berat kubawa, dan dia ‘membayar’ itu semua.

Dulu, bapakku pun selalu merasa senang jika aku memakai kaos yang dibeli atas pilihannya. “Mbak Ta cantik pakai itu,” katanya selalu.

Bapak membelikan baju itu dengan membayangkan diriku. Membayangkan wajahku. Dan dia puas saat melihat aku memakainya.

Cara menghargai memang sepertinya tidak cukup hanya dengan mengucap terimakasih ya, apalagi untuk orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat. Dalam setiap pemberian dari mereka ada cinta dan pengorbanan yang bukan sekadar materi.