Sejak dulu hati ini memang fragile. Makanya tidak sembarang orang kupercaya untuk menjaganya. Hingga kamu datang ke hadapanku, mengulurkan tangan dengan gagah berani. Dan saat itu kupikir mungkin sosokmu adalah sosok paling tepat untuk menjadi penjaga hatiku. Tapi maaf, jika dalam penjagaanmu, hatiku telah banyak merepotkanmu….

Bagiku, kamu bukan lagi orang lain. Makanya aku berani mempercayakan hatiku. Makanya aku tidak sungkan untuk mengomel di hadapanmu kala hatiku kesal, atau menangis meraung-raung kala jengkel dan sedih. Dan karena merasa kamu bukan orang lain, aku akan bertanya hal-hal yang tidak kutanyakan pada orang lain.

Jika kamu keberatan dengan komplain dan pertanyaanku itu, artinya kamu memintaku untuk memperlakukanmu sama seperti orang lain. Kalau itu yang kamu mau, baiklah, aku akan berusaha mewujudkannya. Aku akan berusaha melihatmu sebagai orang lain. Nantinya aku akan merasa banyak tidak enak, sehingga akan sangat menjaga image-ku di hadapanmu.

Aku sudah sangat terbiasa denganmu. Berbagi banyak hal denganmu dan melewatkan aneka peristiwa denganmu. Tapi jika kamu lelah sebagai penjaga hati, aku toh tidak bisa berbuat apa-apa.

“Jangan menjadikan pembenar semua yang kamu lakukan dengan kalimat karena perempuan ingin dimengerti,” ujarmu kala itu. Maaf, tapi begitulah aku yang perempuan. Meskipun kamu banyak dikelilingi perempuan, tapi bukankah memperlakukan mereka berbeda dengan memperlakukanku yang memang ‘perempuanmu’?

Aku memang merepotkan. Yah, sesuatu yang tidak bisa dibanggakan. Unfortunately, aku memilihmu untuk menjaga hatiku. ‘Merepotkan’ adalah bahasaku untuk mempercayakan hatiku.

Tapi selamat, jika ini memang berakhir, kau akan terbebas dariku. Terbebas dari kerepotan ini. Semoga kau senang.

Inspirasi: #kisahmereka.