Tags

Entah akan kumulai dari mana tulisanku ini. Berjuta gambaran dan ilustrasi ada di atas kepalaku, aku bingung harus seperti apa aku lukiskan tentang dirimu, dirimu yang menempati salah satu bagian utama di otakku.
Ah sudahlah, aku tidak tau mau menulis apa, lebih baik aku melihat fotomu saja dari HP kecilku, mungkin sedikit bisa memberikan aku inspirasi untuk menulis.
Hmmm. OK aku akan menulis, tapi sebelumnya aku mau buat minuman madu dicampur air hangat dulu karna perutku sudah kosong sejak pagi tadi.
Aku akan mulai menulis dengan kalimat “Aku sangat mencintaimu”, ya aku sangat mencintaimu Titta, sosokmu yang selama ini selalu ada di kepalaku, kamu yang mengambil alih sebagian isi hatiku, kamu yang menyita ruang-ruang di kepalaku yang tadinya ditempati oleh orang lain.
Ya Aku terjerat, aku tidak bisa berbohong lagi, kali ini aku sepakat dengan Harvey Malaiholo, aku tidak bisa mengelak.
Gelisah jiwaku ini, dilanda bayanganmu
Kan mengkoyak dinding keangkuhanku,
kau ciptakan rindu, kau buat hatiku,
TERJERAT TALI CINTA
Tali-temali itu sekarang sudah menjeratku, semakin panjang dan semakin banyak, aku bahkan tidak tahu lagi mana pangkalnya dan mana akhirnya. Aku hanya merasakannya melingkari sekujur tubuhku, seperti saat menggulung benang sewaktu selesai bermain layangan.
Tali-temali itu adalah kisah kita, kisah di mana kita menjalani hari dengan kasih sayang.
Terkadang tali itu berputar melilit dengan kencang, dan terkadang dia longgar. Terkadang dia genting seperti akan putus, tapi terkadang dia kuat sekuat senar gitar yang di petik beribu-ribu kali. Terkadang aku lelah memutarnya, tapi kemudian kamu datang membawa segenggam semangat untukku.
Pada saat menggulung tali itu, sadar atau tidak sadar gulungan itu keluar dari jalurnya, kemudian kamu menghampiriku dan menasehatiku, bukannya mendengarkan, aku malah memperhatikan mulut kecilmu yang yang lincah berpindah kekiri dan kekanan, aku menyukai itu, aku menyukai saat-saat di mana kamu berbicara di hadapanku.
Aku akui terkadang aku menjadi seorang yang membosankan dengan kalimat yang kubuat sendiri. Aku menjadi seorang yang menjengkelkan dengan keputusan yang berubah-ubah. Tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk tetap terus menjaga agar gulungan tali ini tetap berputar dan terus berputar.
Terkadang laki-laki melihat cinta dengan cara yang simpel. Sayangnya cinta harus bernegosiasi dengan banyak hal, harus berinteraksi dengan banyak emosi, dan harus berkompromi dengan banyak keputusan. Aku bisa saja berbuat dengan “Ego” ku, tapi konsekuensinya aku juga yang menanggungnya. Aku tidak bisa lagi berbuat seenaknya seperti dulu.
Apa pun yang terjadi, aku akan tetap memutar gulungan benang ini, biarpun lambat aku tidak peduli.
I LOVE YOU TITTA
.’. Dari seseorang