Tags

Bagi saya tidak mudah membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak biasa. Tapi saya yakin saya bisa.

Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah. Tapi saya yakin intensitas menangis tersedu yang kadang disertai tumpahnya makanan karena perut bergolak akan berkurang. Ini hanya soal waktu.

Mungkin benar kata-kata saya dulu. Semua yang dihadapi adalah pertanda dan bukan sekadar ujian.

Lelahkah saya? Kadang iya karena tak mengerti apa yang ada di benaknya dan tak bisa memahamkan padanya apa yang ada dalam benak saya. Apalagi jika masalah eksternal tengah begitu kuat mendekap.

Tidak mudah menghapus jutaan kenangan. Tidak gampang menghilangkan ritual bersama.

Dari semua ini semoga saya belajar banyak. Pun dengannya. Jika ini memang sudah garisMU, kuterima dengan lapang dada. Aku akan belajar ikhlas dan sabar untuk ini.

Untuk menghilangkannya, waktu dan jarak muungkin sangat berperan. Aku akan upayakan semampuku, usaha terbaikku untuk pergi jauh darinya. Entah sebentar atau selamanya.

Hingga kini egoku masih besar, gengsiku masih tinggi. Perlahan aku akan benahi diri, meski mungkin tidak bersamanya.

Masalahnya yang membuat kami menjauh mungkin bukan masalah super berat. Wajar ada beda pendapat. Tapi hingga akhir pembicaraan, kami toh tetap bertahan pada pendapat masing-masing. Bagi dia kalimat yang dilontarkan biasa saja. Tapi bagi saya kalimatnya membuat saya diperlakukan seperti orang lain dan bukan orang yang jadi bagian dari dirinya.

Saya benci kata-kata seperti yang dia sampaikan waktu itu. saya ingat saya pernah marah saat adik saya mengatakan hal senada.

Tapi toh kami masing-masing merasa argumentasi kami benar dan yang lain salah. Meski sepele, tapi tidak ada titik temunya.

Ya Allah kuatkan aku… Kembalikan ceriaku. Amiiin.