Tanpa pahit, maka kita tidak tahu rasanya manis. Bertengkar dalam hubungan itu lumrah. Asalkan kita mampu mengadapi dan menyelesaikannya dengan baik.

Kisah bertengkar dalam berhubungan sudah sering kali mampir ke telinga saya. Saya beberapa kali jadi bak sampah untuk hal ini. Dan saya pun juga kerap mengalaminya sendiri.

Dulu, seorang teman beberapa kali mengadu. Entah untuk kali keberapa pacar dia membuatnya menangis. Setiap kali dia menelepon sambil menangis terngiang kalimat seorang teman, “Laki-laki yang sering membuat perempuannya menangis adalah bukan laki-laki”.

Jika masalah itu bisa diselesaikan, maka pertengkaran tidak seharusnya berakhir perpisahan. Pertengkaran itu ada karena isi kepala yang tidak sama, kacamata yang berbeda, dan komunikasi yang tidak lancar. Jika direspons positif sebenarnya pertengkaranlah yang akan membuat suatu hubungan lebih kokoh.

Di beberapa kasus, pria memang lebih memegang kendali karena dialah nantinya sang nahkoda. Bagaimana dia merespons masalah bakal menjadi cerminan kecil saat pasangan itu melaju ke tahap selanjutnya.

Bagaimana kami? Kami masih seperti anak kecil dengan ego masing-masing. Saya marah, dia ikut marah. Begitu pula sebaliknya.

Ketika bertengkar, yang saya sesalkan, semua orang jadi tahu. Di masa lalu, itu ranah privat saya dan pasangan. Entah ya, saat itu kok malah terasa lebih dewasa padahal umur jauh lebih muda. Dulu saya nggak habis pikir ada pasangan yang saling teriak di pinggir jalan, di depan bus, atau perempuannya menangis sesenggukan sehingga jadi tontonan. Tapi sekarang saya mengalami.

Ketidakberuntungan kaum adam adalah mereka yang akan diblame publik jika perempuannya menangis. Mengingat ini, pintar-pintarnya kaum adam saja dalam menyikapi pertengkaran. Mereka kok yang pegang setir.

Sekarang, beberapa kali kami bertengkar, saya yang mengajukan negosiasi. Mungkin dia nggak berniat untuk itu sehingga kerap memutuskan tidak mengajukan tawaran duluan.

Wajar Tuhan tidak percaya memberi kami kapal. Mana mungkin kapal sebesar itu dengan medan yang tidak selalu bersahabat dikendalikan nahkoda dan asisten yang tidak dewasa. Mengelola kapal rupanya bukan sekadar finansial dan jam biologis. Lebih kompleks daripada itu.

Menasihati tanpa menggurui, membimbing tanpa menyakiti, mengarahkan tanpa mendominasi, adalah pekerjaan nahkoda yang tidak gampang. Asistennya juga harus bisa mendukung itu. Tanpa itu, menjalankan kapal hanya di alam khayal. Mungkin lebih baik tidur saja, agar fantasi menemukan jati diri.