Entah untuk kali keberapa kami bertengkar. Kalau sudah begini saya jadi berpikir, kami itu cocok nggak sih sebenarnya.

Saya beberapa kali menjumpainya sebagai sosok yang tidak dewasa. Dia kerap sekali terlena dengan apa yang dia sukai, sehingga tidak ‘menginjak bumi’. Persis seperti anak kecil yang sedang berada di arena bermain. Saya sudah pernah komplain soal ini.

Di saat lain, dia tidak betul-betul menyimak apa kata orang yang sedang bicara. Sehingga terpaksa harus diulang lagi. Ini pun sudah pernah saya komplainkan. Kalau sama saya mungkin gak terlalu masalah, tapi kalau sama orang lain pasti jadi ada kesan buruk yang muncul kan. 1. Gak mudengan. 2. Mengabaikan

Kemarin kami bertengkar. Seharian saya liputan cuma makan 2 keping biskuit dan sebuah tahu telor. Kepala saya pening luar biasa dan terasa mau muntah. Saya mengirim pesan untuk ditemani makan ke dia.

Tapi dia mengajak nonton. Saya amini itu. Dengan harapan bisa makan setelah nonton.

Pulang nonton dia mengajak melihat-lihat celana. Sebenarnya saya enggan, karena memang sudah malam. Tapi ya sudah. Namun ketika dia minta ditemani mampir ke outlet lain saya menolak. Ini benar-benar sudah malam.

Lalu saya mengeluh lapar. Memang dia sempat memberi roti dua jam sebelumnya, tapi saat itu saya benar-benar lapar. Dia lantas melihat jam dan khawatir kami tidak akan dapat bus transJ. Ke mana pikiran itu saat dia mengajak melihat-lihat outlet untuk sesuatu yang tidak dibeli.

Soal naik bus TransJ juga bermasalah. Menurut saya pemikiran dia malam itu nggak efektif dan efisien.

Selama ini saya nggak pernah minta diantar pulang. Saya sudah melakukanya sendiri. Saya bukan perempuan manja yang harus diantar ke sana ke mari.

“Gue sih nggak mau ya, kalau gue nggak dianter.” Ucap teman perempuan saya ketika kita bicara antar jemput. Buat saya nggak masalah nggak ada antar jemput, karena saya tahu benar kondisinya.

Pernahkah saya merengek subuh-subuh minta diantar ke suatu tempat? Dijemput malam-malam dari suatu tempat? Ketika saya belanja sesuatu yang berat minta ditemani dia? NGGAK. Saya bukan orang MANJA.

Ketika teman saya ribut cowoklah yang harus bayar ini itu untuk nonton dan makan, saya tidak mau terbawa pemikiran itu. Soal ini, harus seimbang. Kalau memang saya ada duit, saya yang bayar nggak masalah. Dan ketika itu terjadi, saya nggak akan sampai hati menyebut dia ‘KERE’. Buat saya itu kejam dan terlalu. Pendidikan saya terlalu tinggi untuk sampai menyebut orang lain, terutama yang saya sayangi, demikian.

Kemarin kami sempat mampir toko sepatu. Ketika saya bilang salah satu sepatu di sana mirip sepatu adik saya, dia bilang itu jadul. Kenapa sih harus bilang begitu. Kalau jadul juga nggak akan didisplay tanpa diskon begitu. Sudah masuk gudang barang kali. Terus cuma dia yang punya selera tinggi? Yang akan beli barang nggak jadul? kataikata dia sengak banget.

Kalau perempuan lain saja dipuji setinggi langit. Cantik, imut, humble dan lain-lain. Ah saya sih tetap bangga adik saya. Dia bukan perempuan manja. Mungkin tidak secantik perempuan itu, tapi soal otak? Keberanian? Kepedulian sosial? Sorry, soal keluarga, saya sensitif.

Saya nggak akan marah kalau nggak ada alasan tepat. Ini pun berkali-kali saya bilang. Biarkan seisi dunia tahu kami bertengkar.