Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenalmu. Jika kamu menjadi bagian hidupku hampir 3 tahun ini, maka dia menjadi bagian hidupku hampir 12 tahun ini.

Aku menyayanginya karena dia sahabatku. Sahabat yang punya tempat tersendiri di salah satu ruang hatiku.

Karena dia, kau akhirnya terlibat demikian jauh dalam hidupku. Karena dia, aku membuka pintu sedemikian lebar bagimu. Karena dia, kita ‘ada’.

Sahabatku sekarang punya waktu libur akhir pekan. Sesuatu yang bertahun-tahun menjadi kemewahan tak terbeli. Lalu dia mengajakku traveling. Iya, ‘virus’ yang berhasil kutularkan lewat kisahku, lewat gambar digital yang kubawa, dan lewat antusiasme yang kutunjukkan.

Bali, Lombok dan luar negeri. Itu harapannya. Dia ingin pergi bersamaku. Melewatkan waktu denganku, berbagi sekaligus mengukir cerita di tempat lain. Seolah dia ingin menstempel setiap tempat dengan namaku dan namanya di bawah panji-panji persahabatan.

Setiap kali terlintas tempat baru, entah kenapa namamu yang melintas pertama di benakku. Kalau aku berenang dengan hiu, maka kamu harus juga merasakannya. Kalau aku melihat semburan lahar Anak Krakatau, maka kau pun harus turut menyaksikan. Jika aku menyaksikan penyu bertelur, maka kau pun harus menjadi saksi atas fenomena yang sama.

Aku dan kamu bahkan punya daftar keinginan melongok sudut-sudut dunia ini bersama. Tapi ketika sahabatku hanya ingin aku dalam sepotong waktunya di suatu sudut dunia, lalu apa kabarmu? Padahal there is nothing fun without you.

Aku tak ingin membuatnya kecewa. Tapi aku juga tak ingin membuatmu tak merasakan apa yang kurasakan. Sedangkan pergi bersamamu dan bersamanya di saat bersamaan rasanya tidak mungkin….

Mungkin sesekali kita tak harus bersama-sama melihat sudut-sudut dunia ini…