“Buat kamu aku pilihan ke berapa?” Tanyamu di tengah talkshow yang digelar saat pameran buku.

Aku mendongak ke arahmu, mengalihkan perhatian dari aktivitas menulis laporan via BlackBerry. “Nggak ada pilihan,” jawabku spontan.

“Oh jadi gitu, kamu memilihku karena nggak ada pilihan?” ucapmu dengan raut muka aneh.

Maksud aku, yang lain bukan pilihan bagiku. Soalnya pilihan itu dengan sadar aku daratkan padamu.

Hampir 30 bulan kita bersama, kamu bahkan tahu ada perhatian-perhatian di sekelilingku. Perhatian yang kadang menyulut cemburumu. Tapi pernahkah aku mengalihkan pilihan?

Setiap orang lahir dengan kelebihan dan kekurangan. Pun aku dan kamu. Tidak ada yang benar-benar sempurna.

Perhatian pernah terlontar dari sosok demikian mapan dan pintar. Di lain waktu, sosok dari dunia yang sama denganku. Di waktu lain lagi sosok dari tempat yang tak asing. dan mungkin akan ada lagi sosok-sosok lain yang melintas.

Mungkin aku pernah makan malam dan makan siang dengan seseorang, tertawa dan bercanda dengan seseorang, tapi siapa yang kuizinkan masuk dalam hidupku sejauh ini? Yang kuajak bertemu nisan ayahku, bertemu ibuku, melihat dunia yang sama denganku.

Jalan yang kita lalui memang tidak pernah mulus. Batu tajam dan besar kerap menghadang sejak awal. Tapi bagaimana kita? Obstacles itu malah membuat langkah kita semakin kompak, ikatan kita semakin kuat untuk menuju komitmen tingkat tinggi yang kita impikan.

Pernahkah aku meninggalkanmu dan berpaling pada sosok lain ketika kau bilang ‘aku tak bisa menjanjikan kepastian’. Aku memilih berdiri di sampingmu, berjalan bersamamu, berdoa denganmu, saling menguatkan. Tak terlintas dalam benakku mendamparkan perahu pada pelabuhan mewah yang seolah penuh kepastian.

Bagiku kamu satu-satunya pilihan. Bagiku tidak ada pilihan lain selain kamu. Karena seperti mengutip katamu, kamu adalah plan A di hidupku. Tak ada B, C, hingga Z.