Bayi perempuan itu mirip banget sama kamu. Iyalah, kamu adalah ayahnya. Kaget juga ternyata kamu nikah duluan dan punya anak duluan. Kamu membiasakan anak itu memanggilmu dengan apa? Ayah? Bapak? Papa?

Waktu cepat banget yah. Aku nggak nyangka, empat tahun sejak saat itu status kamu udah berubah. Di kontak terakhir kita dua tahun lalu pun sepertinya nggak ada ‘tanda-tanda’ kalau kamu akan berlari mendahuluiku. Emh oke, kita tidak sedang berkompetisi. Bukan siapa dulu yang menjadi orang tua, bukan juga dulu-duluan membangun keluarga.

Apa rasanya menjadi ayah? Ada sosok mungil yang mengobati lelahmu setelah seharian bekerja dengan tawa dan bahkan tangis lucunya. Semoga bahagia ya, seperti dulu kita saling mendoakan.

Aku? Ribuan langkah kubuat, meski hingga kini belum juga dipanggil mama he he. Singgasana yang kau tinggalkan sudah diduduki sekian lama oleh sosok lain. Iyah, dia yang membantuku berjalan hingga ribuan langkah. Dan kini kami sedang bersiap melompat. Lompatan yang tidak pernah mudah, tapi kami tidak menyerah. Kamu tahu, keterbatasan kerap kali membuat seseorang hebat dan kuat. Semoga kami termasuk yang beruntung itu.

Misteri bertahun lalu terjawab ya. Ternyata kita tidak menua bersaama. Kita tidak menatap anak-anak yang sama, anak yang akan meneruskan jejak. Subhanallah, mungkin ini indahnya rahasia hidup.

Waktu mempertemukan dan memisahkan. Melukai dan menyembuhkan. Ketika waktu berjalan cepat tanpa kompromi, aku akan lebih fokus pada tujuanku. Memprioritaskan hal-hal yang memang seharusnya berada dalam daftar paling atas.

Terima kasih untuk Punclut waktu itu. Untuk waktu yang pernah indah di Bandung. Bye…