Tags

Dua orang itu lahir di tempat berbeda, dan dibesarkan dengan adat istiadat berbeda. Namun tak perlu diragukan jika keduanya tumbuh besar dengan limpahan cinta yang tak terbendung. Siapa sangka keduanya lantas dipertemukan takdir yang begitu misterius.

Bocah laki-laki itu punya hobi aneh. Dia suka sekali mengamati semut yang berjalan beruntutan keluar masuk sarangnya. Kadang mereka berjalan sambil membawa beban, entah itu telur atau makanannya. Saking asiknya mengamati, tak jarang kulitnya bentol-bentol digigiti semut.

“Waktu lagi jalan, dia tiba-tiba berhenti, lihatin semut. Semut merah itu,” ucap seorang keluarga dekatnya yang namanya dirahasiakan.

Hewan lain yang menarik perhatian bocah laki-laki itu adalah kucing. Hewan yang satu itu sanggup ‘menghinoptisnya’. Mungkin di kehidupan yang lalu, bocah ini adalah kucing he he.

Kebiasaan lainnya adalah melihat bus besar yang pool-nya tidak jauh dari rumahnya. Entah apa yang menarik dari bus-bus itu sehingga membuatnya berlama-lama memandangi kotak besi bermesin itu.

Dia cukup ‘bandel’ saat itu. Nangis menjadi andalan saat diganggu temannya. Tapi jika merasa tidak bersalah maka dia akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan diri.

Pekerjaan dengan kelitian nan jelimet adalah hal yang disukainya dan terbawa hingga dewasa. Bahkan saking ingin sempurna versi dirinya membuat orang lain yang lebih simpel tidak sabar.

Orangnya tidak ambisius, tapi tanpa disangka dia kerap menjadi yang terbaik di kelasnya saat sekolah. Hal yang kadang membuat dirinya heran.

Ratusan kilometer dari tempat tinggal bocah itu, seorang gadis kecil yang berambisi menjadi pacar superboy. Imajinasi yang demikian luas membuatnya menjadi penutur yang cukup ulung di atas kertas. Baginya menulis jauh lebih menyenangkan ketimbang bicara. Tapi dia bukan gadis pendiam. Hanya saja kesan ‘sombong’ kerap tertangkap orang-orang yang belum lama mengenalnya.

Banyak ide di kepalanya, namun kebanyakan dia terlalu malas untuk merealisasikannya. Misalnya ide memproduksi baju boneka dan lalu menjualnya.

Ide ‘konyol’ lainnya adalah menjadi tukang reparasi bolpen. Kerap kali dia asyik menghadapi belasan bolpen yang tak lagi bisa digunakan dan berusaha ‘menyulapnya’ agar bisa digunakan lagi buat menulis atau enak buat menulis. Wajah dan tangannya yang penuh dengan tinta tak membuatnya kehilangan keseriusan.

Suatu kali dia menjadi ‘tukang kebun’ yang membuat taman kecil dengan aneka tanaman liar alias rumput. Dia percaya rumput-rumputan pasti ada manfaatnya. Dia pun ingin melakukan penelitian untuk membuat nyamuk, lalat, dan kecoa lebih berguna bagi manusia.

Di saat lain dia menjadi tukang bangunan, berpura-pura membuat tembok saat membersihkan selokan di depan rumah. Atau tukang bengkel saat asyik memperbaiki sepeda adiknya yang rusak hingga bajunya berlepotan noda.

Dia ambisius. Tidak mau kalah dari yang lain, meski kerap kali keinginannya tidak seperti yang diharapkan. Gadis kecil ini juga cukup galak. Siapa saja yang berani mengganggu anggota keluarganya, maka dia yang akan maju duluan. Sapu atau sekedar semprotan amarah adalah senjatanya untuk ‘menghajar’.

Lebih dari seperempat abad kemudian mereka bertemu dalam kisah serendipity-nya. Berbekal kisah-kisah gagal di masa lalu, dengan menggembol harapan, mereka mencoba berjalan bersama. Entah berapa gunung yang telah mereka daki. Kadang bahkan mereka harus terperosok dan hampir jatuh ke jurang. Tapi syukurlah hal itu semakin menguatkan pijakan mereka untuk mencapai puncak. Untuk terus meneruskan kisah, membuka lembar demi lembar buku, memulai bab-bab baru.