Tags

Saya belum lama mengenalnya… Baru sekitar 2-3 bulan. Tapi kami sudah banyak sekali mengukir kisah. Duet mau kami dalam berbagai kesempatan pun masih tersimpan dengan baik.

Tapi kebersamaan itu memang bukan untuk selamanya. Karena sesuatu hal, saya terpaksa merelakannya pergi. Saat ini dia pun sudah berada di tangan orang lain. Saya belajar untuk ikhlas. Dan saya sangat menghargai ‘pengorbanannya’.

Dia adalah kamera DSLR Canon EOS 500D yang saya beli dari teman sekantor dengan cara mencicil. Saya bayar kamera itu dua kali, setiap kali habis gajian. Orang-orang sekitar bertanya-tanya kenapa saya beli kamera itu, padahal di rumah saya sudah punya Canon Prosumer G-12 yang sudah cukup memenuhi kebituhan saya yang memang tidak berniat jadi fotografer, dan hanya sekadarnya saja dalam memakai kamera.

Tapi di lubuk hati terdalam sebenarnya saya ingin belajar fotografi. Bersama si EOS, saya suka sekali memfoto makro. Selama ada EOS, praktis ‘Sam’ begitu nama yang disematkan untuk si G-12, teronggok sempurna di persembunyiannya.

EOS saya ajak ke festival layang-layang di Ancol. Dia pun saya ajak ke Cirebon dan berlebaran bersama keluarga. Bahkan dia saksi saya menikmati Sungai Chao Phraya di Bangkok, sejuknya Zurich di Swiss, dan menawannya Munchen Jerman.

Ketika tangan mungil saya telah terbiasa dengan bodi besar EOS, tiba-tiba tibalah hari itu. Hari yang sudah saya sangka memang. Tidak mungkin saya menyimpan dua kamera, padahal waktu saya lebih banyak digunakan untuk menulis ketimbang menjepret.

Sedih sekali, tapi itulah pilihan. Pilihan untuk melepasnya. Pilihan untuk ‘mengorbankannya’. Semoga dia diperlakukan lebih baik lagi di tangan pemiliknya. Semoga dia jadi punya tas untuk melindunginya. Makasih EOS…