Waktu SMA, saat teman-teman perempuanku sibuk membeli baju-baju model terkini, aku sama sekali tidak tertarik. Alih-alih membeli baju-baju yang cute, aku malah membeli kaos sepakbola yang kedodoran.

Sekarang pun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali aku ke salon dalam setahun. Seingatku pada 2012 ini, aku cuma dua kali ke salon untuk facial. Padahal teman-teman perempuanku sibuk mengkinclongkan mukanya ke salon atau ke dokter kulit.

Sebagian lainnya rajin luluran agar kulitnya lebih berkilau dan lincin sehingga nyamuk pun tergelincir. Aku memilih bangun siang dan membaca atau menonton film saat libur ketimbang antre di salon untuk spa dan lulur yang menurut teman-temanku adalah waktu untuk memanjakan diri.

Bagiku, memanjakan diri adalah bangun siang dan melakukan hal-hal yang disukai seperti membaca, mengedit foto, menulis, atau menonton film di rumah. Kadang aku terlalu malas untuk nongkrong di mal atau di resto saat libur kerja. Mungkin karena aku terlahir sebagai anak rumahan.

“Jangan kayak orang susah deh Vit,” ucap seorang teman yang melihat tingkah laku saya terlalu sederhana.

Kalau aku tidak suka ke salon atau mengikuti mode, apakah artinya aku adalah orang susah? Kalau mau, aku juga bisa melakukannya seperti mereka. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya.

Kadang aku berpikir rada tomboy itu bedanya tipis dengan malas. Tapi sepanjang aku nyaman dan tidak merugikan orang lain, buatku sih fine aja.

Untuk menjadi aku tidak perlu deretan sandal berhak tinggi, aneka model baju yang lagi jadi tren, atau tas dengan warna senada dengan pakaian. Juga tidak perlu rok-rok girly. Untuk menjadi aku itu, hanya perlu rada tomboy dan malas jika menyangkut hal-hal untuk diri sendiriūüėÄ