Tags

, ,

Semakin lama hubungan cinta dijalin, seharusnya keduanya harus bisa saling mengerti, memahami dan menyesuaikan. Semakin lama hubungan dijalani, seharusnya langkahnya semakin kompak. Itu teori di atas kertas. Tapi nyatanya lamanya hubungan dijalin tidak menjamin suatu hubungan akan baik-baik saja.

Ibu saya beberapa kali bercerita tentang tetangga saya yang kedapatan selingkuh. Rumah tangga berantakan kala orang ketiga diberi ruang besar untuk membangun sarang. Mungkin banyak hal bisa dimaafkan, tapi tidak untuk selingkuh.

Saya juga hati-hati untuk hal yang satu ini. Berupaya keras agar diri ini tidak terjebak sama ‘permainan hati’ yang sebenarnya diciptakan sendiri. Selingkuh itu mungkin kekhilafan, tapi tetap dilakukan dengan sadar. Saat melakukannya, tidak mungkin sosok pasangan tak pernah terpikirkan.

Alasan selingkuh itu banyak. Bisa jadi itu memang sudah karakternya. Bisa karena silau pada harta orang ketiga, melihat orang ketiga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pasangan, merasa lebih nyaman dengan orang ketiga, dll. Satu perselingkuhan bisa jadi memicu perselingkuhan berikutnya jika yang bersangkutan tidak tobat.

Di kantor beberapa orang tahu saya sudah punya calon pasangan. Tapi beberapa lainnya tidak tahu. Maklum, saya selalu ‘available’ untuk kantor, sehingga tidak tampak seperti orang yang punya seseorang yang istimewa. Karena itu tidak jarang ada yang menjodoh-jodohkan saya dengan sosok ini dan itu. Tapi saya tahu, itu konteksnya bercanda. Sehingga siapapun yang dijodohkan tidak akan mempan.

Beberapa kali saya pergi makan berdua dengan beberapa pria. Kadang saya  menjalin pembicaraan yang demikian akrab dengan pria, tapi ya sudah itu saja. Tidak ada yang lebih. Para pria itu hanya teman dan hubungannya tidak akan naik kelas, karena saya menghargai hubungan yang telah lama saya jalin dengan orang lain.

Saya pernah dekat dengan pria yang jauh lebih mapan daripada calon pasangan saya ini. Tapi toh aku tidak beranjak. Saya lebih suka ‘menderita’ bersama dengan orang pilihan saya untuk bisa memiliki hal-hal yang kami inginkan. Karena saya terbiasa berjalan dari nol. Soalnya easy come easy go. Jadi mendingan not easy to come. Lagipula hal-hal yang didapat dengan perjuangan itu terasa lebih berharga.

Saya bahagia saat kami harus panas-panasan di atas sepeda motor abu-abu monyet itu. Di saat lain, kami harus tabah menunggu hujan reda di emper toko saat Honda Jazz merah melintas dan dengan ‘sopannya’ memercikkan genangan air ke arah kami. Saya juga tidak keberatan jika terkadang membayar makan atau tiket nonton kami. Dan dalam hati akan mengutuk habis-habisan orang yang berpikir bahwa prialah yang harus membayar semua. Ini emansipasi, Bung!

Saya kerap bilang pada calon pasangan: mungkin aku keluar makan dengan pria lain, tertawa lepas dengan mereka, bercanda dengan mereka, terlibat diskusi asyik dengan mereka. Tapi mereka hanya sepenggal waktuku. Karena mereka bukan kamu, karena mereka bukan rencana masa depanku.

Saya menghormati dia. Selalu kujelaskan bagaimana hubungan saya dengan pria-pria itu. Selalu kutunjukkan bahwa mereka tidak seberharga dirinya. Setiap akan pergi dengan mereka, kuminta izinnya. Karena jika tak ingin dikhianati, maka jangan pernah berkhianat. Jika seseorang meninggalkan orang lain karena wajahnya, maka suatu saat dia akan ditinggalkan karena wajahnya. Jika seseorang meninggalkan orang lain karena harta, maka kelak dia akan ditinggalkan karena harta juga. Konon begitulah karma…

Yang terpenting, the outcome of unfaithful is a world of hurt. That’s it!