Tags

, ,

Jakarta menangis tiada henti petang itu. Terkadang ditingkahi teriakan petir yang menggelegar. Semua kelabu, dan juga aku. Di bawah rintik kuayunkan langkah. Kubiarkan basah menggerayangi dan tatapan orang-orang yang sibuk berteduh membuntuti.

Langkah itu terayun dari sebuah masjid di kawasan Senayan. Masjid yang dulu akrab dalam hari-hariku itu kembali kutapak. Ratusan kenangan melintas. Kenangan masa lalu dan kenangan beberapa menit yang baru saja berlalu.

Sepatu basah itu membawaku masuk ke pusat perbelanjaan di dekat masjid tersebut. Tiba-tiba langkahku terhenti di depan penjual tiket bioskop. “Mau nonton apa,” sapa petugas membuatku tersentak.

Habibie dan Ainun menjadi pilihanku. Konon film ini menguras air mata. Tahukah kamu, jika sangat ingin menangis dan tidak berharap orang lain bertanya-tanya apa alasan menangis, maka menonton film sedih adalah alternatif.

Tak lama aku duduk di salah satu kursi di dekat lorong jalan. Dingin mendekap erat seperti kangen karena sudah lama tidak bertemu. Ulu hati tiba-tiba terasa seperti ditendang. Augh! Ini upah seharian tidak makan. Tapi siapa peduli.

“Kamu jelek, gendut, hitam. Seperti gula jawa,” ucapan Habibie muda kepada Ainum membuat aku dan penonton lain tersenyum.

“Ainun. Cantik sekali ya. Sudah jadi gula pasir,” kata Habibie saat bertemu Ainun bertahun-tahun kemudian.

Ainun untuk Habibie dan Habibie untuk Ainun, mungkin itulah takdir yang telah ditetapkan sejak dulu. Tak peduli waktu membentang selebar apapun, siapa saja yang datang dan pergi, tapi kalau namanya sudah jodoh, maka tidak akan ada yang mampu menghalangi.

“Maukah Ainun ikut saya ke Jerman, mendampingi saya, menjadi istri saya?” tanya Habibie di atas becak, setelah mereka berjalan-jalan di Bandung.

“Saya tidak bisa menjajikan apa-apa, tapi saya berjanji akan menjadi suami terbaik buatmu,” kata Habibie.

Apa kata Ainun? “Saya tidak bisa berjanji menjadi istri yang baik, tapi saya akan selalu ada di sampingmu,” ucapnya.

Mereka pun menikah ala adat Jawa dengan nilai-nilai Islam yang kental. Setelah menikah, mereka pun tinggal di Jerman. Di sanalah kedua anak buah cinta Habibie-Ainun lahir.

Mulanya mereka hidup dengan perekonomian pas-pasan. Bahkan Habibie harus rela kakinya luka lantaran sol sepatunya jebol.

“Saya bisa bekerja untuk membantu kamu,” kata Ainun suatu kali saat menyadari sulitnya perekonomian mereka.

“Tidak, jangan. Saya akan bekerja lebih keras lagi. Saya akan mencari pekerjaan tambahan,” kata Habibie.

“Setiap terowongan pasti memiliki ujungnya, setiap ujungnya pasti ada cahaya. Saya janji akan membawamu ke cahaya itu,” ucap Habibie untuk memberikan semangat kepada perempuan istimewanya itu.

Mereka pun bertahan hidup di Jerman. Namun Habibie bermimpi bisa kembali ke Tanah Air dan mengabdikan dirinya di Indonesia. Tapi ternyata semua perlu waktu.

“Kamu adalah orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah saya temui. Tapi kalau aku harus mengulang hidup lagi, aku akan tetap memilih kamu,” kata Ainun yang memunculkan titik air di sudut mata.

Janji-janji Habibie kepada Ainun satu demi satu terpenuhi. Janji membawanya menuju cahaya di ujung terowongan, bahkan janji membuatkannya truk yang bisa terbang melalui pesawat N-250 Gatotkoco.

“Ainun jangan tinggalkan saya,” kata Habibie saat Ainun sakit. “Kamu jangan takut kehilangan aku. Kita ini satu,” kata Ainun terbata.

Saat Ainun dirawat di salah satu RS di Munchen, Jerman, Habibie tidak bisa menjenguknya. Bahkan dia sampai memohon-mohon kepada petugas RS. Dia khawatir Ainun akan khawatir jika Habibie tidak di sampingnya.

“Ainun kenapa? Kamu takut ya sama alat-alat ini?” tanya Habibie saat suatu kali sudah dibolehkan menjenguk istrinya.

“Kamu khawatir sama saya ya? Jangan khawatirkan saya, saya sudah minum obatnya,” ucap Habibie. Ainun sebelum dirawat di RS memang sempat menuliskan jadwal minum obat suaminya.

Tapi akhirnya kanker ovarium stadium lanjut itu harus mengantarkan Ainun kepada Sang Khalik. Kisah cinta pertama yang juga cinta terakhir itu berakhir di dunia.

Isak tangis puluhan penonton terdengar saat Habibie berdoa sebelum Ainun meninggal. Ketika dia mengucap terimakasih kepada Tuhan atas pertemuan yang tekah ditakdirkan. Dalam kisah manis sekalipun ada air mata.

“Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,” ujar Habibie kemudian.

Rintik hujan di Jakarta belum juga sirna. Langit masih menjelaga. Saya pun melangkah dengan topi jaket , menerobos genangan air, membuat sepatu flat saya kian basah. Memendam tangis yang belum puas dimuntahkan. Tangis kisah cinta mereka, tangis saya….