Tags

,

IMG00420-20110126-0753

Hari ini tak beda jauh dari hari lalu. Jakarta masih pengap. Sesekali angin dingin bertiup bersama dengan butiran hujan dari langit. Entah kenapa, tiba-tiba aku merindukan salju. Berharap entah bagaimana titik-titik hujan ini berubah beku dan padat.

Akhir Januari 2011 lalu, padahal aku begitu tersiksa dengan musim dingin yang membekukan butiran hujan. Saking dinginnya, ingus mengalir tanpa kusadari saat berjalan di udara terbuka. Seketika ingus itu kehilangan identitas. Ingin beku, tapi tak kuasa, karena diterpa panas karbon monoksida yang berhembus dari kedua lubang hidungku.

Matahari bersinar terik di atas Ulaanbaatar, tapi suhu udara begitu dingin. Bahkan sempat merasakan suhu minus 25 derajat Celcius saat berjalan-jalan di padang salju yang saat musim panas merupakan padang rumput. Di sana banyak terdapat banyak rumah tradisional orang Mongolia.

Merindukan syal membebat leher dan mulutku. Merindukan perjuangan tubuhku untuk beradaptasi, meski kulit tangan ingi seolah sangat rapuh. Aku begitu mudah terluka, meski hanya tergores selembar kertas HVS. Bibirku pun ikut berjuang. Tak jarang darah menempel di tisu saat kugunakan untuk mengelap bibirku. Beruntung aku tidak mimisan. Tanpa rokok dan wine, tubuhku masih bisa bertahan.

Aah hampir dua tahun. Salju itu letaknya bermil-mil dari tempatku duduk sekarang. Negara yang saat itu membuatku kapok untuk datang karena sambutan dinginnya yang luar biasa justru membuatku kangen. Dee benar dalam ‘Spasi’-nya di Filosofi Kopi. “Bukankah baru bisa memahami jika ada spasi… baru bergerak jika ada jarak… saling menyayang bila ada ruang”.

Beberapa waktu lalu sebenarnya sempat menikmati salju buatan di Bandung. Sungguh aku rindu baunya. Dinginnya, rasanya. Semoga ada kesempatan lain di tempat berbeda menikmati salju. Kali ini aku ingin salju jatuh di ujung hidungku. Seperti gadis-gadis di komik serial cantik.