Tags

,

Tidak terasa 14 tahun sudah aku menyimpan asa. Untuk pergi ke daratan yang sama denganmu. Untuk berbicara langsung padamu. Untuk memelukmu. Dan kemarin malam aku memimpikanmu, Il Grande Alessio Tacchinardi.

Entahlah, di dalam mimpi itu rasanya kita sudah seperti sering bertemu. Kita mengobrol biasa tanpa canggung. Nggak terlalu jelas sih obrolan apa yang kita lakukan, dan bahasa apa yang kita gunakan. Tapi aku seneeeng banget.

Di mimpi itu, rasanya semua terdengar gampang. Yang paling aku ingat, kamu bilang sesuatu yang intinya gini: “Kalau kamu, aku yakin bisa dilakuin,”. Ya ampun itu kalimat pembangkit semangat yang so sweet banget.

Kalimat itu mengingatkan masa lalu. Dulu sekali, kalimat itu pernah dilontarkan seseorang. Saat aku mengeluhkan tugas kuliah yang menumpuk dan bejibun seolah tak bisa kulakukan, dia pasti bilang: “Kalau aja aku bisa bantuin. Tapi kalau kubantuin, nanti berantakan. Bantu doa aja yah. Kalau Vita pasti semuanya beres. Vita gitu loh.”

“Vita nggak sehebat itu,” timpalku. “Tapi Vita yang kukenal lebih hebat dari sekadar mengerjakan tugas-tugas itu,” ucapnya bersikukuh.

Dalam mimpiku Tacchi pakai baju sehari-hari. Nggak ada kemewahan, seolah dia bagian dari kehidupanku sehari-hari. Bibirnya selalu bergerak-gerak, seolah bicara banyak hal.

Hiks, padahal 4 bulan lalu, daratannya hanya satu jam dari tempatku berdiri. Eurostar bisa dengan mudah mengantarkanku ke sana, menjemput mimpi berada di daratan yang sama dengannya. Melangkah mendekatinya, dan menghadirkan sosoknya dalam nyata. Tapi hal itu tidak kulakukan. Hanya saja kala itu aku yakin, sangat yakin, suatu hari aku akan benar-benar di negerinya. Suatu hari aku bisa mengulurkan kaos hitam-putih dengan nama dia di punggung untuk ditandatangani.

Tacchi, tunggu ya…