Tags

,

Foto: Thinkstocks

Tidak ada yang mau memiliki anak dengan penyakit. Mungkin banyak orang tua yang berpikir kalau bisa ditukar, biarkan anaknya sehat dan sakit parah itu dipindah ke tubuh mereka. Tidak tega melihat anak tersayang atau adik terkasih kepalanya mulai gundul karena kemoterapi atau kehilangan anggota tubuh karena sel kanker yang menggerogoti, banyak orang yang menangis di musala itu.

Musala itu terletak di lantai 2 rumah yang menjadi tempat tinggal sementara anak-anak dan keluarganya yang sedang mendapat pengobatan kanker. Isak tangis kerap terdengar dalam sujud dan usai salat. Memohon kesembuhan dan keajaiban bagi keluarganya yang terbaring sakit.

Saat masuk ke rumah itu, saya mendapati kondisi anak-anak yang mengiris-iris hati saya. Ada balita yang memiliki tumor besar di mulutnya, di pipinya, matanya mengalami kanker kornea atau retinoblastoma. Beberapa anak gundul, meski dia seorang perempuan.

Ada yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Wajahnya pucat, kakinya sudah diamputasi sebelah. Tidak ada semangat menyala di wajahnya. Hari-hari yang seharusnya bisa digunakan untuk berlari dan bermain bersama teman-temannya, atau bersekolah, mengikuti ekstrakurikuler, dan seabrek kegiatan lain harus dihabiskan di kasur. Hanya alat gambar sederhana yang menjadi teman setia.

Saat di luar sana banyak teman-teman sebayanya sibuk terbuai dengan hedonisme, mereka justru bergulat untuk bertahan hidup. Ah kemoterapi itu begitu menyiksa, membuat gadis 12 tahun yang tinggal di sana mual dan muntah. Tidak ada makanan yang bisa dinikmati. Kanker itu tak juga pergi meski kaki kanannya harus diamputasi.

Di depan sang anak, orang tua harus tampil seceria mungkin. Membangkitkan semangat hidup sang buah hati yang kadang hampir padam. Tapi melalui waktu paling pribadi dengan Tuhan, mereka menumpahkan keluhnya. Sedu tangis tertahan juga terdengar saat bibir sibuk membaca ayat-ayat Alquran. Ya Tuhan, aku jadi merasa sangat bersyukur.

Mungkin mataku tidak sebulat teman-teman lain dan tidak bisa melihat jelas tanpa kacamata, tapi sebenarnya aku dianugerahi dua bola mata yang sehat. Mungkin hidung saya tidak terlalu mancung, bibir saya tidak seseksi Angelina Jolie, tapi organ tubuh saya itu berfungsi sempurna. Subhanallah. Memang benar, ketika kita melihat ke bawah, kita akan menjadi banyak bersyukur. Bahkan ketika ada yang meninggal karena leukemia, saya sangat bersyukur masih diberi waktu untuk bernafas. Sungguh hidup itu adalah keajaiban.

Malulah mereka yang masih korupsi padahal sudah punya cukup harta. Malulah mereka yang sibuk dengan perangkat gadget paling baru dan tidak peduli pada saudara-saudara yang sedang bertahan untuk hidup, mereka yang selalu dihantui sel-sel kanker. Ya Allah beri kesembuhan untuk mereka yang sakit. Izinkan mereka sembuh kembali dan beraktivitas normal seperti yang lainnya. Aamiin.

Kanker pada anak memang tidak diketahui apa penyebabnya. Memang kalau Tuhan berkehendak, maka seorang anak akan menyandang kanker. Tapi jika dideteksi sejak dini, maka kemungkinan sembuh akan lebih besar.

Jika ada yang aneh pada mata anak, misalnya terlihat manik seperti mata kucing atau mendadak juling, patut dicurigai terkena retinoblastoma. Apabila ada benjolan di tubuh anak, segera periksakan ke dokter. Jika anak pucat, mengalami pendarahan seperti mimisan, dan demam bisa jadi pertanda leukemia. Mari berusaha sebaik mungkin. Berikhtiar sejauh yang kita mampu. Namun kembalikan semua kepada Tuhan. Karena dari-Nya-lah semua berasal dan kepada-Nya-lah semua kembali.