Tags

,

“A true friend freely, advises justly, assists readily, adventures boldly, takes all patiently, defends courageously, and continues a friend unchangeably,” begitu kata William Penn.

Menemukan seribu musuh itu lebih mudah ketimbang mendapatkan satu teman baik. Itu benar sekali.

Banyak orang yang semula berteman, tapi karena kekecewaan mendalam berubah menjadi ketidakpedulian. Semua kenangan indah seperti menguap, tanpa bekas, tanpa jejak….

Hubungan pertemanan menjadi berbeda karena utang. Uang memang bisa menjungkirbalikkan dunia. Alasan yang terlalu dibuat-buat dan tidak ada itikad baik untuk mengembalikan utang menghilangkan kepercayaan. Padahal suatu hubungan, termasuk pertemanan, tidak bisa berjalan lancar tanpa ada rasa saling percaya.

Kasus lain, kekecewaan mendalam saat seorang sahabat tak lagi menganggap sahabat. Entah apa alasannya. Dia tidak lagi punya waktu untuk kita, tapi selalu punya waktu untuk jalan-jalan dengan temannya yang lain. Tidak punya waktu untuk bertemu barang sekejap tapi punya waktu untuk kegiatan lainnya.

Kita berusaha membuatnya up to date dengan apa yang terjadi dalam hidup kita. Saat kita akan pergi ke suatu tempat, saat peristiwa penting terjadi dalam hidup, kabar-kabar seperti itu diwartakan. Tapi tiba-tiba dia datang dengan kata pamit akan pergi ke belahan lain dunia ini. Tanpa penjelasan memadai.

Mungkin benar, selama tidak ada kepentingan ya tidak perlu ada hubungan lagi. Tapi buat saya tidak begitu. Hanya saja, jika ada yang menarik diri saya akan berlaku sama. Jika tak lagi peduli, pun demikian saya. Bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan, Bung!

Pada akhirnya kita memilih diam, pura-pura tidak tahu, karena belajar untuk tidak lagi peduli. Yeah, diam itu bukan karena tidak tahu tapi karena tidak mau tahu.

“….We said as long as we would stick together,
We’d be alright,
We’d be ok.
But I was stupid
And you broke me down
I’ll never be the same again…”