Tags

Sudah lama aku berdamai dengan masa laluku. Masa lalu yang dulu dipenuhi kamu,  sang sepertiga hidupku. Dan malam itu, kamu hadir dalam perbincangan masa lalu. Karena kerap kali jika bicara masa lalu adalah bicara tentang kamu.

Bermula dari seorang teman yang bercerita tentang sang mantan. Sosok yang bertahun-tahun dekat dengannya, menjadi bagian hari-harinya, dan orang yang paling memahami mimpi terliarnya ditinggal pergi. Laki-laki itu seolah tanpa dosa di suatu hari bilang, “Aku akan menikah. Aku dijodohkan.”

Mendengar kisahnya, sungguh aku merasa sangat kesal. Kenapa pria itu tidak memperjuangkan perempuan yang begitu setia itu? Sungguh nggak laki banget keputusannya. Hmm tapi itu sudut pandangku yang terlalu sempit dan tidak bisa melihat seluas apa masalah di balik keputusan mengejutkan itu.

Temanku menangis, mengingat sisa hidupnya tidak akan dihabiskan bersama pria yang begitu disayanginya. Meskipun mereka kerap bertengkar, sering putus nyambung, tapi dunia nggak bisa dibohongi. Yah, mereka saling sayang. Sejak itu mereka saling jadi stalker. Facebook, twitter, blog, dan media apapun di dunia maya tak luput dari mata mereka hanya demi mencari tahu bagaimana kabar masing-masing.

Obrolan dengan temanku itu membangkitkan kepo dalam diriku. Mendadak kuketikkan satu alamat email orang dari masa laluku. Jreng jreng, Google mencatat dengan apik eksistensi dia. Tidak terlalu banyak memang, tapi info singkat yang ada cukup memberitahuku dia baik-baik saja, menikmati dunianya.

Lalu terlintas sejuta kenangan masa lalu. Ah apaka dia juga pernah melakukan hal serupa? Entah kenapa namaku melintas di benaknya, lalu dia goggling namaku, dan menghadirkanku dalam sekejap?

Dia, dari dulu memang tidak bisa diam. Ada saja yang selalu dikerjakan. Dari kecil, dia memang pandai menggambar, suka berimajinasi. Dan sekarang, pekerjaannya tidak jauh-jauh dari hobinya di waktu kecil.

Betapa kami tidak berjodoh. Saat dia pindah kerja ke Jakarta, aku pindah ke Bandung. Saat aku balik ke Jakarta, dia justru menetap di Pulau Dewata. Hmm, memang inilah desain besar-Nya.

Dia sudah lama punya kehidupan sendiri, dan aku pun begitu. Dia cuma masa lalu, sosok dari  masa kecil yang saat ini tidak terlalu kukenal. Bicara masa lalu, malam itu mungkin bicara kamu. Tapi saat bicara masa kini dan masa depan, tidak pernah ada namamu. Aku, kamu, beda.