Tags

, ,

Ingin makan malam di tempat yang spesial sambil mencari suvenir khas Thailand? Anda bisa melakukannya di Asiatique, pasar malam yang dikemas dalam mal dengan bangunan terbuka di pinggir Sungai Chao Phraya, Bangkok.

Terletak di Charoen Krung Road, jalan raya tertua di Bangkok, Asiatique menggambarkan sejarah budaya Thailand. Pusat perbelanjaan ini berada dalam bangunan terbuka yang besar, di beberapa titiknya terdapat banyak hal yang identik dengan Thailand.

Misalnya saja ada mobil kereta, serta patung tukang becak dan pekerja dermaga yang sedang mengangkat karung beras. Spot-spot ini dijadikan objek foto para wisatawan lokal maupun mancanegara.

detikTravel berkesempatan mengunjungi Asiatique pada minggu lalu, saat transit 8 jam di Bandara Suvarnabhumi untuk menuju Zurich, Swiss. Dari Zurich, saya harus berganti pesawat ke Munich, Jerman, guna meliput Allianz Junior Football Camp di markas FC Bayern Munich.

Dari Bandara Suvarnabhumi menuju ke lokasi yang beroperasi sejak pukul 17.00 hingga 23.00 itu tidaklah sulit. Anda bisa menggunakan taksi atau Airport Rail Link. Karena tidak ingin terjebak macet, saya memilih menggunakan Airport Rail Link. Koin sebanyak THB 45 (Rp 13.700) harus saya masukkan ke mesin penjual tiket untuk mendapatkan layanan transportasi ini.

Butuh waktu sekitar 45 menit dari Bandara Suvarnabhumi menuju Stasiun Phaya Thai untuk berganti moda lainnya. Sedangkan bila menggunakan Express Line maka hanya butuh waktu sekitar 11-15 menit untuk tiba di stasiun yang sama. Tentu saja tiket Express Line lebih mahal, THB 90 (Rp 27.500).

Nah, dari Phaya Thai saya membeli tiket Bangkok Mass Transit System (BTS Skytrain) seharga sekitar THB 35 (Rp 10.700) di mesin pembelian tiket. Tak lama, BTS mengantarkan saya ke Saphan Thaksin. Saya pun mengambil pintu keluar 2 dan berjalan menuju Sathorn Pier. Di dermaga ini, banyak orang menunggu boat yang akan mengantarkan mereka ke sejumlah tujuan di sepanjang Sungai Chao Phraya.

Hotel-hotel di sekitar Chao Phraya memberikan layanan jemputan untuk para customernya, misalnya hotel Peninsula dan Oriental. Boat yang disediakan hotel pun lebih bagus ketimbang boat-boat lainnya. Boat dari hotel dihiasi lampu dan hiasan yang menarik.

Pengelola pusat perbelanjaan malam Asiatique juga memberikan layanan boat gratis kepada para calon pengunjungnya. Waktu yang ditempuh dari dermaga sampai ke Asiatique sekitar 15-20 menit.

Sekitar 1.500 toko dan restoran berada di kawasan tersebut. Toko perlengkapan handphone, baju, hingga suvenir khas Thailand melimpah. Bila lapar, restoran cepat saji, ala Barat, ala Asia, hingga yang asli Thailand pun siap memanjakan lidah pengunjung. Malam itu, saya makan Pad Thai udang, mi goreng khas Thailand. Harga makanan di sini sekitar THB 100-1.000 (Rp 30.500-305.000).

Pemuda-pemudi Thailand dan bule-bule bertebaran di lokasi ini. Ada yang sekadar berjalan-jalan sambil berfoto, berbelanja, atau hanya nongkrong di restoran yang ada sambil mengudap makanan. Meriah. Bila Anda ingin berbelanja suvenir, maka ada banyak sekali pernak-pernik Negeri Gajah Putih ini. Magnet kulkas, gantungan kunci, tas, sepatu, hingga hiasan meja, lengkap tersedia. Semuanya itu bisa ditawar lho. Jadi jangan segan-segan mengajukan penawaran atas suvenir yang hendak Anda beli.

Untuk hiburan, menurut gothailand.about.com, Asiatique memiliki dua acara yang paling menonjol. Pertama, Joe Louis Puppet Theatre, semacam pertunjukan seni wayang. Cerita yang dituturkan mengambil mitologi Thailand. Dalang tidak tersembunyi, melainkan bagian dari pertunjukan. Anak-anak dan orang tua menyukai acara ini.

Kedua, Cabaret Calypso, yang merupakan pertunjukan waria Bangkok. Para lady boys akan menari dan lip sync lagu-lagu klasik dan yang sedang hits di Asia. Untuk menyaksikan pertunjukan ini, Anda harus merogoh kantong cukup dalam, 1.000 THB untuk selembar tiket.

Transportasi Bangkok

Sebagaimana Jakarta, Bangkok pun akrab dengan kemacetan lalu lintas. Namun siapapun yang tinggal di kota tersebut sangat berterima kasih dengan keberadaan sejumlah transportasi yang bisa menjadi pilihan untuk menghindari kemacetan.

Di Bangkok, Anda bisa menggunakan bus, taksi, ojek, Metropolitan Rapid Transit (MRT), ataupun BTS. Nah, BTS merupakan salah satu yang populer untuk menghindari macet.

“Kalau pakai BTS bisa menghindari macet di Bangkok. Transportasi ini saya pikir efektif untuk kota ini,” ujar Ria, pelajar asal Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Thailand.

Sepanjang hampir dua tahun tinggal di sekitar Bangkok, Ria belum pernah merasakan bus yang lama mengetem menunggu penumpang. Sopir bus pun tertib menurunkan penumpang di halte yang tersedia.

“Saya juga nggak pernah lihat ada pengamen dan pengemis yang masuk ke dalam bus,” imbuhnya.

Ria juga sempat mencicipi layanan ojek di Bangkok. Menurut dia, para tukang ojek mengenakan seragam. “Jadi kita tahu mana yang tukang ojek dan mana yang bukan. Bahkan untuk wilayah tertentu sudah ada tarifnya. Kalau jarak tempuh calon penumpang terlalu jauh, biasanya akan ditolak tukang ojeknya,” papar Ria.

Sumber: detiktravel