Tags

, , ,

Sailormoon

Siapa yang tidak kenal dengan Sailormoon? Mereka yang besar di tahun 90-an pasti hafal dengan tokoh anime manga asal Jepang ini. Setelah bertahun-tahun tak bertemu sosoknya, kini Sailormoon datang lagi, menghapus kangen yang demikian membuncah.

Sudah dua hari ini aku menonton serial kartun Sailormoon di salah satu televisi swasta nasional, sesaat setelah salat subuh. Ya ampun aku merasa benar-benar kembali ke masa itu, masa-masa saat kewajibanku hanya belajar. Saat masih pakai seragam putih merah dan putih biru.

Awalnya aku tahu Sailormoon diputar di TV lagi dari twit salah satu teman kantor. Kata dia ada kartun tahun 90-an. Penasaran, aku pun menanyakan kartun apa yang tayang. Ya ampun begitu dia menjawab kalau itu adalah kartun Sailormoon, jantungku bergegup kencang (yaelaaah).

Alhasil setiap selesai makan sahur dan salat subuh, aku duduk manis di depan TV dan melihat aksi tokoh kartun yang menemani masa-masa kecil hingga ABG-ku. Lagu tema Sailormoon pun kian kerap aku dendangkan. Bahkan kata-kata ‘ajaib’ Sailormoon saat hendak bertarung pun masih fasih aku lafalkan.

“Aku ksatria berbaju sailor, pembela kebenaran dan keadilan, Sailormoon, dengan kekuatan bulan akan menghukummu.”

Mungkin tampak sedikit kekanak-kanakan. Tapi bukankah dalam diri seorang dewasa ada sisi-sisi kanak-kanak. Menurutku tidak perlu malu untuk menunjukkannya. Sisi itu ‘jujur’, menampakkan sisi diri yang lain itu bukan sesuatu yang salah kok.

Mengenang sesuatu yang manis di masa lalu itu memang menyenangkan. Kehadiran Sailormoon (ini versi paling awal) seolah menjadi teman yang menyenangkan. Rasanya seperti bertemu sahabat lama yang sudah lama tidak ketemu.

Dulu saat menonton Sailormoon, di rumah masih ada bapak. Adik laki-lakiku masih kecil, bahkan dia belum bisa membaca. Saat itu aku masih kerap menceritakan imajinasiku pada adik laki-lakiku bahwa sebenarnya aku adalah Sailormoon. Padanya aku bilang bertempur melawan penjahat jika pulang sekolah terlambat.

“Mbak Titta tadi berubah ya?” begitu sapanya setiap kali aku pulang sekolah terlambat.

“Iya, capek banget tadi ngejar monster sampai kuburan,” balasku.

“Monsternya apa Mbak? Ini tangannya sakit karena tadi bertempur ya?” tanya adikku lagi sambil menunjuk luka di kakiku. Padahal itu luka karena jatuh saat olahraga.

“Bla bla bla,” aku pun menceritakan kisah rekaanku. Adikku benar-benar menjiwai cerita yang kusampaikan, hingga keluar keringat dari dahinya. Bahkan jantungnya ikut berdetak kencang.

“Mbak Titta ditolong sama Tuxedo Berkacamata (pelesetan dari Tuxedo Bertopeng)?” tanya dia lagi.

“Iya, untung ada Tuxedo Berkacamata,” timpalku.

Kadang dia sampai menangis mendengar ceritaku. Kata dia, dia takut aku kalah dan mati di tangan monster. Ya ampun manis banget adikku saat itu.

Hiks, jadi nangis…. Sesuatu yang menyenangkan di masa lalu itu kadang sanggup menarik air mata ya. Sangat bersyukur untuk sederet kenangan indah di masa lalu, untuk saat-saat yang manis.

By the way, saking sukanya sama Sailormoon beberapa teman memanggilku dengan ‘Mbak Sailormoon’ atau ‘Mbak Usagi’ hi hi hi…