“Twit Mbak itu seperti masih single aja deh. Kok nggak pernah bikin twit ‘asyiknya ditemani sahur sama suami’ atau apa kek,” ujar seorang teman kantor.

“Ha ha harus ya? Aku sih geli dikit-dikit pamer kemesraan,” responsku.

Bukan sekali ini saja ada orang yang memperhatikan cuitan maupun tulisanku di media sosial. Sejak zaman pacaran sama suami, aku memang sangat jarang berkirim pesan mesra lewat medsos. Juga jarang sih mewartakan betapa bahagianya kami karena lagi makan berdua di mana, atau betapa beruntungnya kami bisa saling memiliki.

Menurutku, cinta itu soal yang pribadi. Hubungan spesial tidak selamanya harus dikoarkan. Untungnya aku dan suami lebih suka bercakap-cakap di medsos layaknya percakapan sahabat. Tidak ada embel-embel panggilan sayang di sana.

Paling kadang kalau lagi di luar kota, ekspresi sayang itu terungkap lewat bahasa asing atau sandi yang tentunya tidak semua orang mengerti maksudnya. Paling ‘hot’ menambahkan kata ‘ku’ seperti Tittaku, itu pun bisa dihitung dengan jari.

Karena sangat jarang ‘mesra’ di sosmed, bahkan dulu teman-teman tidak ada yang tahu kalau aku punya hubungan spesial dengan seorang pria. Mereka pun kaget ketika akhirnya aku membagikan undangan pernikahan.

“Aku nggak nyangka kamu nikah secepat ini,” ucap seorang teman sesaat setelah aku menikah.

“Kok kaget?”

“Iya kupikir malah kamu nggak punya pacar. Tampaknya adem-adem aja. Dari kantor pulang sering malem, malam minggu juga sering di kantor sampai malem. Foto BBM juga nggak pernah ada foto cowok. Twitter sama FB-nya juga adem aja,” tuturnya.

“Cinta itu urusan pribadi. Nggak semua orang di luar kami berhak tahu. Aku risih sih kalau harus sayang-sayangan di medsos,” timpalku.

“Wah menginspirasi. Aku juga ah, nanti begitu,” kata temanku.

Tidak ada larangan pasangan yang pamer kemesaraan dari foto di DP BBM yang sering berganti-ganti dengan pacarnya, sampai cuitan dan status di media sosial yang mengungkap betapa mesranya dia dengan pasangan. Bagi seseorang itu biasa saja, tapi bisa jadi mengganggu buat orang lainnya. Dan ini yang paling aku hindari. Apalagi udah sering menampilkan aneka foto dengan pacar eh taunya putus….

Bukan tidak bangga juga sama pasangan sehingga tidak menampilkan banyak hal ke muka publik. Tapi buatku , wujud kebanggan bukan dengan seperti itu. Aku lebih suka berbagi cerita secara langsung dengan teman-teman (yang sama-sama sudah berkeluarga) lalu menceritan ribuan kebaikan suami atau hal-hal manis yang dilakukan bersama pasangan.

Disadari atau tidak diri kita sendiri yang menjadikan sosmed sebagai ajang ‘infotainmen’. Lagi bermasalah sama pasangan diumbar, pas lagi manis-manisan juga diumbar sehingga semua orang tahu. Hmm….