Tags

,

Hidup itu memang misteri yang begitu pelik. Hal-hal tak terduga, bahkan tak pernah terpikir sebelumnya bisa terwujud. Dulu, masa depan pernah direncanakan melalui setengah lusin sendok teh. Siapa sangka, rencana itu diwujudkan Tuhan, meski untuk mencapainya tidak semudah membalik telapak tangan.

Ketika memulai menjalin hubungan dengan pria itu, mulanya aku tidak yakin jika dia bakal menjadi yang terakhir. Perbedaan pendapat yang sering berujung perdebatan hebat kerap terjadi. Sosok-sosok lain terkadang meningkahi. Tapi, pria ini begitu yakin suatu hari nanti kami akan bersama-sama mengaduk teh dengan sendok teh yang kami beli di salah satu pusat perbelanjaan itu.

“Sendoknya disimpan di sini aja. Nanti kita pakai kalau sudah menikah,” begitu ucapnya, lebih dari 3 tahun yang lalu. Suatu masa ketika kami akhirnya berada di kota yang sama setelah sempat beberapa waktu menjalin hubungan jarak jauh.

“Aih pede sekali kamu,” ucapku dalam hati. Tapi aku penuhi permintaannya. Setengah lusin sendok teh cantik itu aku taruh di salah satu lemari yang jarak kubuka.

“He he lucu ya, kalian sudah mulai menabung perabotan rumah tangga,” kata seorang teman saat aku ceritakan soal sendok teh itu.

“Hah? Itu cuma sendok,” selaku.

“Iya, bermula dari sendok, nanti akan bertambah banyak dan bertambah besar,” ucap temanku lagi.

Mungkin hanya kebetulan semata, tapi pria itu kemudian membawa kompor gas ke rumahku. Katanya, dia dapat door prize di acara gathering kantornya. Sendok, lalu kompor gas, rasanya seperti potongan puzzle kecil dalam kisah kami.

Hari berlalu, dan begitu banyak peristiwa terjadi. Sendok dan kompor bahkan seolah terlupakan. Tapi susunan puzzle mulai semakin lengkap dan akhirnya puzzle yang bergambar pernikahan kami terlihat jelas.

Sendok teh berkilau itu rupanya benar menjadi bagian dari hari-hari kami. Kompor gas itu juga menjadi bagian aktivitas kami. Subhanallah, rupanya rencana kami merupakan bagian dari rencana Tuhan yang demikian besar. Buatku ini keajaiban.