Tags

“Kata orang jatuh cinta itu takdir, tapi menikah adalah pilihan. Dan saya memilih untuk menikah….” Kalimat itu kuucapkan sebagai kalimat pembuka saat memberi tahu teman satu tim bahwa aku akan cuti menikah beberapa waktu lalu.

Menikah itu tidak ada patokan umurnya. Makanya saya menghargai setiap orang yang masih mau lama-lama melajang meskipun usianya sudah cukup matang dan kondisi finansialnya sudah mapan. Bukankah menikah itu insya Allah sekali seumur hidup, sehingga wajar jika mempertimbangkan berbagai hal?

Saya sendiri menikah ketika banyak teman-teman seumuran yang sudah menikah. Bahkan banyak dari mereka yang sudah beranak pinak. Tapi semua orang punya pilihan dan jalan hidup masing-masing. Semua orang bebas memutuskan. Lagipula rencana manusia itu terkadang beda dengan rencana Tuhan. Jadi tidak bijak rasanya menghakimi orang yang dirasa terlambat menikah. Setiap orang punya alasan, dan itu harus dihargai.

Di sekitar saya ada beberapa teman yang masih lajang. Usianya sedikit di atas saya. Wajah mereka good looking, punya karir bagus, mapan, pintar, baik. Tapi tidak semua orang mudah menemukan orang yang klik dengan dirinya. Wajah menawan, pendidikan tinggi, dan kekayaan yang dimiliki belum bisa menjamin seseorang mudah menemukan pasangan.

Yang namanya jodoh itu datangnya memang nggak terduga. Salah seorang teman yang saya kenal saat sedang melakukan pekerjaan di Kalimantan, misalnya. Dia perempuan dan merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Kedua adiknya adalah perempuan dan sudah menikah lebih dulu.

Teman saya itu manis, pintar, baik, dan mandiri. Tidak ada alasan sepertinya sehingga harus dijauhi lawan jenis. Tapi dia terlambat menikah jika dibanding perempuan lain seusianya. Di usianya yang sudah sangat matang, dia baru bertemu sang pujaan hati. Mereka akan menghelat akad nikah tahun ini. Namanya juga jodoh, waktunya tidak bisa kita tentukan.

Saya juga punya sahabat yang luar biasa. Dia punya kepribadian menarik, berwajah manis, pintar, dan mandiri secara finansial. Sudah sejak lama dia ingin menikah. Tapi malah saya, orang yang dulu sangat cuek memikirkan pernikahan, yang menikah duluan. Inilah hidup, ketika 1 + 1 tidak selalu sama dengan 2.

Dulu saya pernah merasa sangat benci ketika ditanya-tanya: kapan nikah? nunggu apa lagi sih? bla bla bla bla. Rasanya ingin sekali menyumpal mulut usil mereka. Ini hidup saya, kenapa mereka harus ribut sendiri sih. Pertanyaan itu bukan peduli, tapi usil. Meski saat itu saya sudah menjalin hubungan serius dengan seseorang, tetap saja pertanyaan itu tidak enak didengar.

Pesan moralnya adalah: tidak perlu bertanya kapan menikah, kapan lulus, kapan punya anak. Terkadang itu menjadi pertanyaan yang sangat sensitif.

Bahkan sekarang saja, saat saya sudah menikah, saya jarang sekali menggunakan kata ‘suamiku’ ketika sedang mengobrol dengan teman. Saya lebih suka menyebut langsung nama suami. Bukan apa-apa, saya hanya menghindari ada orang yang ‘jealous’. Lagipula dengan menyebut nama dia, orang-orang akan lebih mengenalnya.

“Mbak, nyebut suaminya kok langsung nama gitu. Emangnya nggak punya panggilan sayang?” tanya salah satu teman di kantor.
“Ada sih, tapi ya masak aku cerita sama orang dengan menyebut panggilan sayang. Lagian namanya memang itu kan,” responsku.
“Tapi jadi kayak nggak romantis Mbak,” protesnya.
“Ha ha romantis masak harus dikabar-kabarin ke semua orang sih,” ucapku.

Jadi, biarkan semua orang dengan keputusannya akan menikah kapan, dengan siapa, dan bagaimana prosesinya. Tidak perlu repot-repot memikirkan urusan orang lain saat urusan sendiri saja masih demikian banyak.