Saya kerap kali tidak gampang percaya sama orang lain. Mungkin itu makanya saya cenderung lebih suka melakukan banyak hal sendiri. Tapi jeleknya, saya mudah sekali tersentuh dan kasihan sama orang lain. Alhasil saya kerap mengalami kesulitan gara-gara sifat saya ini.

Menurut saya baik jika kita tidak gampang percaya sama orang. Itu meningkatkan alarm kewaspadaan akan hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Disamping itu bisa meningkatkan kemandirian. Semakin sedikit bergantung pada orang lain, menurut saya itu semakin baik. Sebab tidak ada ‘utang budi’ dan sebagainya.

“Kamu terlalu sombong untuk menerima bantuan dari orang lain.” Ucapan ini pernah dilontarkan sahabat baik saya bertahun lalu, saat kami masih sama-sama kuliah di Jogja. Jujur, bukannya sombong, tetapi saya cukup tahu kapasitas diri sendiri untuk kemudian minta bantuan kepada orang lain.

Tapi tidak selamanya ‘prinsip’ ini dianggap baik oleh orang lain. Jika hal ini terkait pekerjaan, mungkin kolega merasa kurang senang lantaran tidak dipercaya melakukan pekerjaan tertentu. Ada pula yang menganggap saya orangnya ‘negatif’, terlalu mengkhawatirkan sesuatu, dan sebagainya. Tindakan preventif yang saya anggap baik, rupanya tidak selalu dilihat baik pula oleh orang lain.

Terkadang muncul kesalahpahaman dengan orang lain yang cenderung memutuskan sesuatu tanpa melibatkan saya untuk berdiskusi lebih dulu. Setelah dia selesai mengambil keputusan dan menurut saya berisiko di masa mendatang, dia jadi marah. Lalu saya dituding ‘galau’.

Kerap kali keputusan yang diambil dengan ‘tekanan’ atau ‘terburu-buru’ menyisakan penyesalan di masa mendatang. Itu makanya saya ingin hati-hati dalam memutuskan sesuatu. Apalagi jika itu berhubungan dengan uang. Maklum, tidak gampang mencari uang. Uang didapat dengan banyak tekanan dan mengorbankan ‘kebebasan’. Lagipula hati-hati itu bukan berarti butuh waktu lama buat mikir kan….

Kadang jadi kerap berada di dunia dengan ‘entah’ yang begitu banyak. Keentahan yang tidak seorang pun memahami. Keentahan yang seperti bola sepak dan ditendang begitu kuat lantas mengenai ulu hati. Sungguh, hal yang baik, meski sudah berkali-kali dikomunikasikan, belum tentu akan direspons dengan baik. Inilah sisi rumit manusia dewasa….