Menyedihkan adalah saat mencaci (baca: ngata-ngatain) seseorang tanpa merasa berdosa. Apalagi cacian itu merujuk pada wujud fisiknya. Sungguh buatku itu kasar, kasaar sekali. Mungkin seseorang tidak dilahirkan secantik Miranda Kerr atau setampan Brandon Routh, tapi apa lantas dia pantas dikatai, ‘kamu jelek’.

“Ha ha ha cewek jelek. Lihat tuh gendut begitu ha ha ha.” Ucapan ini aku dengar beberapa waktu lalu. Saat itu beberapa gadis sedang berkumpul bersama dan memberi komentar tentang seorang perempuan yang pernah jadi masa lalu kekasih salah seorang di antara mereka.

Memang bukan aku yang dikatai begitu, tapi aku merasa risih dan marah. Aku rasa nggak ada seorang manusiapun yang mau dilahirkan jelek. Bagaimana perasaannya ya kalau dia tahu disebut jelek, dijadikan hinaan beberapa cewek lainnya.

Apakah tidak memakai model baju terkini, ke mana-mana selalu menggunakan angkutan umum, rumah berada di salah satu gang sempit, tidak bekerja di perusahaan besar, kulit wajah tidak mulus, adalah segudang alasan untuk menyebut seseorang jelek? Daripada mengeluarkan perkataan yang menyakiti orang lain, bukankah lebih baik diam saja?

Setiap manusia itu unik. Mungkin dia tidak secantik para model, tidak menggunakan parfum dan perlengkapan mahal, tapi mungkin dia adalah sosok yang baik dan peduli pada orang lain. Kerap kali manusia tidak sadar kecantikan atau ketampanan itu sifatnya sementara. Wajah manusia itu hanya kulit pembungkus tengkorak.

Sungguh aku takut setengah mati ‘ngata-ngatain’ fisik orang. Secantik dan seseksi apa sih aku ini hingga harus mencela fisik orang lain.

Kadang orang yang tidak terlalu tinggi cukup percaya diri mencela orang yang tingginya hanya beberapa centi meter di bawahnya. Sering kali orang yang memiliki beberapa ‘fans’ cukup percaya diri mengatakan orang lain jelek.

Padahal fisik kita semua saat ini adalah yang terbaik yang sudah diberikan Tuhan. Semua manusia itu pada dasarnya sama, jadi nggak perlu menghina atau menganggap rendah yang lainnya. Semoga mereka, yang masih sering ‘mempermasalahkan’ fisik, yang sering menjadikan fisik sebagai bahan lelucon, segera sadar….