Tags

, ,

Foto: detikTravel

 

Sekitar dua bulan lalu, saya ada tugas ke Gunung Puting, Pangkalan Bun, Kalimantan. Aneka primata saya temui di sana, salah satunya orang utan. Bebeberapa dari mereka ada yang punya anak kecil. Sang induk ke mana-mana mengajak anaknya pergi, bermain, dan melindunginya.

Belum lama saat rombongan kami masuk hutan, terlihat induk orang utan yang sibuk mengaduk-aduk tanah. Mungkin dia sedang mencari akar atau umbi yang bisa dimakan. Di dekatnya, seekor orang utan kecil menunggu.

Di lokasi tempat memberi makan orang utan, lagi-lagi saya melihat induk orang utan dan anaknya. Saat sang induk sedang makan, anaknya bergelayut di lehernya.

Ada lagi orang utan yang datang sambil menggandeng anaknya. Ketika anaknya terjatuh, dang induk buru-buru membantunya berdiri. Mungkin karena takut jatuh atau apa, anaknya lalu minta gendong induknya. Sungguh manja sekališŸ™‚

Menurut keterangan pemandu yang menemani kami, induk orang utan memang membesarkan anaknya sendiri. Sementara yang jantan pergi mengembara. Dalam perjalanannya, dia bisa saja kawin dengan orang utan betina lainnya. Para pejantan ini seolah tidak punya kewajiban melindungi si betina dan anaknya. Dia bahkan mungkin tidak peduli mau makan apa istri dan anaknya.

Berbeda dengan siamang yang memiliki kecenderungan membangun keluarga. Ya, siamang memang primata yang memegang monogami. Baginya cukup satu istri. Tak heran siamang jantan tak segan turut mengasuh anaknya. Setidaknya, begini yang saya baca.

Nah, balik lagi ke induk orang utan itu. Kata ‘induk’ mengingatkan saya juga pada induk ayam, induk kucing, dan lainnya. Ketika di dunia manusia digembar-gemborkan Ā emansipasi, di dunia hewan sudah lama melakukannya. Seekor betina, sendiri melindungi anak-anaknya, memastikan mereka tidak kelaparan, memastikan mereka terlindungi.

Jadi perempuan itu memang seharusnya tidak manja, bagaimanapun kondisinya. Karena hidup itu keras. Tidak segala hal yang kita inginkan bisa didapat dengan mudah.

Pemandu di Tanjung Puting menceritakan bagaimana seekor orang utan betina yang sedang menggendong anaknya tertembak oleh pemburu organ orang utan. Orang utan itu mendekap erat anaknya yang sedang menyusu, meski dirinya terkapar. Ketika si pemburu menghampirinya, ibu orang utan itu mengulurkan anaknya yang masih bayi kepada si pemburu. Tak lama, dia mati.

Mendengar cerita itu, entah kenapa saya ingin menangis. Rasanya ingin menggugat, ke mana perginya orang utan jantan yang sudah menghamilinya itu. Di mana dia, saat istri dan anaknya butuh perlindungan? Apakah dia tidak peduli saat istrinya mengais-ngais tanah mencari makanan? Apakah saat istrinya mati ditembak, dia tahu? Apa dia tahu sakitnya? Apa dia tahu betapa berat hidupnya?Apakah dia peduli dengan anaknya dan bagaimana nasibnya kelak?

Ya, hidup itu keras. Butuh perjuangan untuk sampai di tempat yang nyaman. Bahkan perjuangan tidak berakhir saat kaki sudah menapak di tempat yang nyaman. Induk orang utan memberi pelajaran bagaimana untuk ikhlas dalam membesarkan anak, tidak peduli bagaimanapun kondisinya.

Perempuan itu tidak lemah, dia kuat. Kalau dia mau, dia tidak saja bisa melindungi dirinya sendiri, tapi juga bisa menjadi pohon beringin besar yang jadi tempat bernaung banyak orang. Yang namanya pohon besar itu, pasti dia duluan yang akan kena hempasan angin atau terjangan halilintar, sebelum pohon-pohon kecil di bawahnya.

Karena hidup itu tidak selalu ‘ideal’, tidak selalu seperti yang ‘seharusnya’, maka harus kuat. Jangan remehkan kaki kecil kita, yang siapa sangka justru lebih kuat dari akar terkuat manapun. Ketika merasa sendiri mengejar matahari, tidak memiliki tongkat penyangga, percayalah ada Dzat Maha Kuat tak terlihat yang selalu menyertai. Dia tahu benar seberapa kuat diri kita. Jika semakin berat beban yang kita tanggung, juga tanggung jawab yang dipikulkan, artinya kita sudah lebih besar dan kuat dari waktu-waktu sebelumnya.

Jika induk ayam saja mampu sebegitu mandiri membesarkan anak-anaknya, atau induk orang utan yang demikian perkasa namun penuh kasih sayang menjadi ‘matahari’ bagi buah hatinya, pasti manusia bisa lebih baik. Jangan banyak berharap dari manusia lain, percayalah pada kemampuan sendiri. Pasti akan selalu ada cahaya kasat mata yang akan membimbing….